Respon dari komunitas petani lokal sangat positif. Banyak peserta dari Koperasi Oheo mengaku baru kali ini mendapatkan informasi lengkap mengenai beasiswa tersebut.
“Kegiatan ini sangat membuka mata kami. Anak-anak di desa punya potensi, tapi kami sering kesulitan informasi. Sekarang kami jadi lebih yakin untuk dorong mereka ikut,” ujar Rafiudin, tokoh koperasi lokal.
SPKS juga menggarisbawahi pentingnya dukungan dari orang tua. Dalam sesi diskusi, orang tua diajak untuk melihat pendidikan bukan sebagai beban, melainkan sebagai jalan untuk memperkuat posisi petani dalam rantai pasok.
Melalui kegiatan ini, SPKS menegaskan perannya sebagai organisasi petani yang tak hanya memperjuangkan hak di kebun, tetapi juga masa depan anak-anak petani. Dengan menjangkau langsung ke komunitas, SPKS berharap bisa mendorong pemerataan akses pendidikan, khususnya di sektor sawit rakyat yang selama ini masih tertinggal dari sisi kualitas SDM.
“Kalau anak-anak petani kita bisa kuliah, punya pengetahuan dan skill, maka pengelolaan kebun rakyat akan jauh lebih baik. Kita tidak lagi tergantung pada pihak luar,” tutup Sabarudin.
Sosialisasi di Konawe Utara hanyalah awal dari rangkaian kegiatan SPKS yang akan terus bergerak ke daerah-daerah lain. Dengan semangat kolektif dan kolaboratif, SPKS membangun harapan baru: masa depan sawit Indonesia yang dikelola oleh petani sendiri, dengan SDM yang unggul dan berdaya saing. (T2)
