InfoSAWIT, TANJUNG JABUNG BARAT – Perempuan-perempuan petani sawit swadaya yang tergabung dalam Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) menunjukkan bahwa keberlanjutan di sekitar perkebunan sawit tidak hanya soal teknik bertani, tapi juga soal semangat belajar, berbagi, dan memberi manfaat untuk lingkungan serta ekonomi lokal.
Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, sebanyak 70 perempuan membentuk Kelompok Pengelola Pembibitan Perempuan (KP3) yang terdiri dari kelompok Nurul Huda Lestari, Mahau Berseri, dan Al Ikhlas Berkah. Dengan fasilitas terbatas, mereka melakukan pembibitan tanaman lokal seperti petai, kopi, kemiri, dan durian. Bibit tersebut ditanam di sekitar perkebunan dan lahan kritis sebagai bentuk kontribusi terhadap kelestarian lingkungan.
Semangat yang sama juga terlihat di Kalimantan Timur. Uum, anggota Koperasi Perkebunan Sawit Marga Indah, dikenal sebagai anggota paling aktif dalam kegiatan sekolah lapang sawit berkelanjutan. Tak hanya menyerap ilmu, ia juga membagikan pengetahuan tersebut kepada kelompoknya agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas.
BACA JUGA: SPKS Aceh Dampingi 40 Siswa Daftar Beasiswa Sawit Kuliah Gratis Tahun 2025
Di Sumatera Utara, Nurhayati dari kelompok UD Lestari di Kabupaten Batu Bara fokus pada peningkatan ekonomi perempuan melalui pemanfaatan limbah sawit. Salah satu produk inovatifnya adalah lidi sawit, yang tidak hanya mengurangi limbah tapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi perempuan di desanya.
Sementara itu, di Tanjung Jabung Barat, ada sosok Susi Wahyuni yang menjadi pionir pemberdayaan perempuan melalui pendekatan kreatif. Selain bertani, ia memperkenalkan teknik eco printing—cetak alami pada kain yang menggunakan dedaunan dan bahan dari sekitar kebun sawit. Dalam tiga tahun terakhir, Susi telah melatih lebih dari 50 perempuan dan anak sekolah untuk membuat kain bermotif dengan pewarna alami. Produk ini tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga bernilai ekonomi dan telah dipamerkan di berbagai acara.
“Perempuan harus punya keterampilan tambahan di luar berkebun. Dengan eco printing, kami bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitar tanpa merusak lingkungan,” ujar Susi dikutip InfoSAWIT dari Fortasbi, Minggu (25/5/2025).
BACA JUGA: Dorong Perkebunan Sawit Modern, BPDP dan FORTASBI Gelar Pelatihan Teknis untuk Petani Swadaya
Inisiatif-inisiatif ini menjadi bukti bahwa perempuan petani sawit swadaya bukan sekadar pelaku di kebun, tapi juga agen perubahan. Dengan cara dan pengetahuannya masing-masing, mereka mengembangkan praktik sawit berkelanjutan, sekaligus mendorong nilai tambah ekonomi yang nyata.
Melalui dukungan FORTASBI, semangat perempuan-perempuan ini terus tumbuh—menjadi inspirasi di tengah tantangan industri kelapa sawit menuju masa depan yang lebih lestari dan inklusif. (T2)
