Bumitama Agri Dorong Inklusi dan Ketertelusuran, Jadi Contoh Adaptasi Industri Sawit terhadap Regulasi Global

oleh -3.139 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ Chief Sustainability Officer Bumitama Agri, Lim Sian Choo.

InfoSAWIT, JAKARTA – Di tengah tuntutan global akan praktik agribisnis yang lebih berkelanjutan dan transparan, Bumitama Agri Ltd. tampil sebagai salah satu pelopor transformasi sektor sawit hulu. Berkantor pusat di Singapura dan tercatat di Bursa Efek Singapura sejak 2012, perusahaan ini mengelola lebih dari 187.000 hektare perkebunan dan membukukan pendapatan sebesar SGD 1,41 miliar pada akhir 2024. Namun, lebih dari angka-angka bisnis, pencapaian Bumitama ditopang oleh komitmen kuat terhadap keberlanjutan dan ketertelusuran pasok.

Di bawah tangan Chief Sustainability Officer Lim Sian Choo, Bumitama telah memperkuat strategi keberlanjutannya melalui penerapan kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE) sejak 2015. Komitmen ini diperbarui pada 2022 dengan pendekatan berbasis dampak, yang semakin menanamkan keberlanjutan sebagai inti operasional perusahaan.

Salah satu tantangan terbesar yang kini dihadapi industri sawit adalah implementasi Peraturan Deforestasi Uni Eropa (EUDR) yang menuntut ketertelusuran hingga tingkat koordinat geospasial. Meski aturan ini belum diberlakukan penuh, Bumitama mengambil langkah proaktif. Hingga 2024, 92,5 persen dari total tandan buah segar (TBS) yang diproses—lebih dari 1,8 juta ton dari pihak eksternal—sudah ditautkan dengan koordinat geospasial yang presisi, memenuhi standar ketertelusuran Tier 3.

BACA JUGA: Sertifikasi RSPO Petani Sawit Swadaya Naik 60%, Petani Semakin Terlibat dalam Ekosistem Sawit Berkelanjutan

“EUDR bukan hanya soal kepatuhan, tetapi tentang membangun sistem rantai pasok yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Lim dikutip InfoSAWIT dari focus.world-exchanges, Minggu (20/7/2025). Ia menekankan pentingnya inklusi petani kecil dalam agenda ini—kelompok yang selama ini kerap terpinggirkan akibat keterbatasan akses terhadap teknologi, data, dan legalitas lahan.

Sebagai respons, Bumitama menggandeng pemerintah Indonesia dan pelaku industri lainnya dalam mendukung registrasi petani kecil melalui platform e-STDB serta memberikan pelatihan peningkatan kapasitas. Upaya ini bertujuan menjembatani kesenjangan antara regulasi internasional dan realitas di lapangan, sehingga petani kecil tidak tersingkir dari pasar global.

Langkah-langkah tersebut diperkuat dengan kolaborasi bersama konsultan dan penyedia teknologi untuk menyiapkan sistem pemetaan dan verifikasi berskala luas. Target Bumitama adalah mencapai pemetaan poligon penuh untuk seluruh rantai pasokannya pada 2026—sebuah tonggak penting dalam ketertelusuran industri sawit.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Melesat pada Jumat (18/7), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melonjak

Menurut Lim, keberhasilan transisi ini tidak hanya bergantung pada upaya korporasi, tetapi juga dukungan regulator dan pasar modal. “Perusahaan membutuhkan akses terhadap perangkat, platform, pendanaan, dan pengakuan. Hanya dengan itu kita bisa menjembatani antara kapabilitas pelaku di lapangan dan ekspektasi pasar global,” ujarnya.

Pengalaman Bumitama menjadi cerminan bahwa keberlanjutan dan ketertelusuran bukan sekadar kewajiban, melainkan strategi bisnis jangka panjang yang memperkuat daya saing sekaligus menjawab tantangan lingkungan dan sosial yang semakin kompleks. (T2)

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com