InfoSAWIT, SELANGOR – Upaya transisi energi hijau di sektor perkebunan sawit Malaysia memasuki babak baru dengan peluncuran proyek rintis penggunaan biodiesel B30 oleh SD Guthrie Berhad (Guthrie), bekerja sama dengan Kementerian Perladangan dan Komoditi (KPK), Petronas Dagangan Berhad (PDB), dan Lembaga Minyak Sawit Malaysia (MPOB). Peluncuran resmi proyek ini disempurnakan oleh Menteri Perladangan dan Komoditi, YB Datuk Seri Johari Abdul Ghani di Pulau Carey, Selangor.
Melalui inisiatif ini, seluruh armada mesin dan kendaraan diesel milik Guthrie di Pulau Carey akan menggunakan biodiesel B30—campuran bahan bakar yang terdiri dari 30% biodiesel berbasis minyak sawit dan 70% diesel petroleum. Penggunaan B30 diyakini mampu menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 23% per liter dibandingkan dengan diesel konvensional. Pasokan biodiesel untuk proyek ini berasal dari terminal PDB di Melaka.
YB Datuk Seri Johari menyambut baik langkah Guthrie, seraya menyebutnya sebagai tonggak penting dalam pembangunan sektor perladangan yang lebih berkelanjutan. “Penggunaan biodiesel sawit tidak hanya mendukung agenda dekarbonisasi negara, tetapi juga membuka jalan bagi implementasi penuh mandat nasional B30 di masa mendatang,” ujarnya dilansir InfoSAWIT dari Facebook resmi Kementerian Perladangan dan Komoditi, Minggu (20/7/2025).
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalteng Periode I-Juli 2025 Naik Rp21,87 per kg
Kementerian Perladangan dan Komoditi juga menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh proyek ini, yang dinilai sejalan dengan Program Biodiesel Kebangsaan yang telah digagas sejak tahun 2011. Secara keseluruhan, proyek percontohan ini diproyeksikan mampu mengurangi emisi karbon dioksida hingga 9.000 ton per tahun—setara dengan emisi yang dihasilkan lebih dari 1.950 kendaraan bermotor.
Inisiatif ini menandai pencapaian signifikan dalam peta jalan transisi energi hijau di industri sawit Malaysia, sekaligus memperkuat posisi biodiesel sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan berdaya saing tinggi. (T2)
