InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – India kini mencatatkan diri sebagai pengimpor terbesar benih kelapa sawit tumbuh (germinated oil palm seeds) dari Malaysia, seiring percepatan program nasional negara tersebut dalam memperluas areal tanam dan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak nabati.
Menurut data resmi, India mengimpor sekitar 3,03 juta ton minyak sawit dari Malaysia sepanjang 2024. Jumlah itu mencakup 17,9 persen dari total ekspor minyak sawit Malaysia, menempatkan India sebagai pasar tujuan utama produk sawit Negeri Jiran.
“Terjadi peningkatan signifikan dalam permintaan benih sawit Malaysia, terutama dari India,” ujar Direktur Jenderal Malaysian Palm Oil Board (MPOB), Dato’ Dr. Ahmad Parveez Ghulam Kadir, dilansir InfoSAWIT dari Indiatimes, Selasa (22/7/2025). Ia menyebut hal ini berkaitan erat dengan ambisi India memperluas perkebunan sawit domestik.
BACA JUGA: Mimpi Sawit Bebas Emisi
Lewat skema National Mission on Edible Oils – Oil Palm (NMEO-OP), India menargetkan pembukaan 1 juta hektare perkebunan kelapa sawit hingga 2025-2026, dengan harapan produksi minyak sawit mentah (CPO) bisa mencapai 2,8 juta ton pada 2029-2030. Saat ini, luas perkebunan sawit India baru mencapai sekitar 370.000 hektare, dengan fokus pengembangan di negara bagian timur laut dan wilayah kepulauan.
Meski demikian, perdagangan benih sawit masih berlangsung secara informal. “Sebagian besar pengiriman dilakukan melalui transaksi satu kali (one-off consignments) tanpa kontrak jangka panjang,” ungkap Ahmad Parveez. Ia menambahkan bahwa ekspor benih didominasi oleh skema business-to-business, dengan pelaku usaha Malaysia turut menyediakan keahlian teknis untuk memastikan keberhasilan penanaman.
Menurutnya, minat India terhadap benih sawit Malaysia mencerminkan kepercayaan terhadap kualitas bahan tanam serta kuatnya hubungan kerja sama bilateral. “Ini adalah peluang besar yang akan kami perkuat, termasuk dalam aspek keberlanjutan,” tambahnya.
Di tengah naiknya permintaan benih, ekspor CPO Malaysia ke India justru mengalami moderasi, dipengaruhi oleh penyesuaian tarif impor oleh pemerintah India dalam upaya menjaga kestabilan harga minyak goreng domestik. “Kami memahami kebijakan ini sebagai bagian dari strategi manajemen pasokan nasional India,” kata Ahmad Parveez.
Meski demikian, India tetap menjadi mitra utama bagi ekspor sawit Malaysia. MPOB kini tengah mendorong perluasan pasar ke sektor industri makanan olahan dan perhotelan, serta promosi produk sawit berkelanjutan dengan sertifikasi Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO).
Dalam bidang riset, Malaysia terus mengembangkan varietas unggul yang mampu menghasilkan lebih dari 30 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun — hampir dua kali lipat dari rata-rata nasional sebesar 15,47–16,73 ton antara 2020–2023. Selain itu, varietas baru juga tumbuh lebih lambat secara vertikal, memperpanjang umur ekonomis tanaman hingga lebih dari 30 tahun.
BACA JUGA: NTP Petani Sulbar Tertinggi Nasional, Transmigran Sawit Dorong Kesejahteraan Warga
“Benih komersial Malaysia saat ini sangat cocok untuk dibudidayakan di India, terutama di wilayah yang memiliki curah hujan memadai. Kami juga tengah meneliti varietas tahan iklim ekstrem, khususnya terhadap kekeringan,” tutup Ahmad Parveez. (T2)
