InfoSAWIT, BEIJING – Impor kedelai China dari Brasil melonjak 9,2% pada Juni 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didorong panen besar di Brasil dan ketegangan dagang yang terus berlangsung antara Beijing dan Washington. Sementara itu, pasokan dari Amerika Serikat turut meningkat tajam sebesar 21%.
Data dari General Administration of Customs yang dirilis Minggu (20/7) menunjukkan bahwa Negeri Tirai Bambu mengimpor 10,62 juta ton kedelai dari Brasil sepanjang Juni, setara dengan 86,6% dari total impor kedelai bulan tersebut. Angka ini naik dari 9,72 juta ton pada Juni tahun lalu.
Impor dari AS mencapai 1,58 juta ton atau 12,9% dari total, naik dari 1,31 juta ton pada bulan yang sama tahun lalu. Secara keseluruhan, China mencatat rekor tertinggi untuk impor kedelai bulan Juni dengan total 12,26 juta ton.
BACA JUGA: Satgas PKH Bidik 1,04 Juta Hektare Lahan Sawit Ilegal di 14 Provinsi
“Lonjakan impor Juni secara tahunan sebagian besar mencerminkan keterlambatan pengiriman dari April akibat proses bea cukai yang lambat,” kata Liu Jinlu, peneliti pertanian di Guoyuan Futures dilansir InfoSAWIT dari Reuters, Selasa (22/7/2025). “Sementara itu, pertumbuhan dari Januari hingga Juni didorong oleh hasil panen kedelai Brasil yang sangat melimpah untuk musim 2024/25.”
Namun, total impor kedelai China dari Brasil selama Januari–Juni justru turun 7,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadi 31,86 juta ton. Sebaliknya, pengiriman dari AS naik tajam sebesar 33% dalam periode yang sama, mencapai 16,15 juta ton.
Para analis memperkirakan tren tingginya impor kedelai akan berlanjut pada kuartal ketiga 2025. Namun, arah impor di kuartal keempat akan sangat bergantung pada hasil negosiasi perdagangan antara China dan Amerika Serikat.
BACA JUGA: CPOPC: Industri Sawit Jadi Motor Penggerak SDG8 di Negara Berkembang
Liu mencatat bahwa pasokan kedelai dari Amerika Selatan telah menyebabkan lonjakan produksi soymeal (bungkil kedelai), namun permintaan hilir tidak mengikuti laju produksi. “Karena kedelai Amerika Selatan memiliki masa simpan yang pendek, pabrik pengolah (crushers) meningkatkan kapasitas operasi. Ini mempercepat produksi bungkil kedelai, namun permintaan yang lemah menyebabkan pola pembelian ‘just-in-time’ dan penumpukan stok secara cepat,” jelasnya.
Sementara itu, impor kedelai dari Argentina tercatat hanya 111.603 ton sepanjang paruh pertama 2025, turun drastis 47,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Tidak ada pengiriman tercatat dari Argentina pada bulan Juni, menandakan pergeseran signifikan dalam peta sumber pasokan kedelai China di tengah dinamika global yang terus berubah. (T2)
