InfoSAWIT, BANDUNG — Upaya pemerintah untuk memperkuat hilirisasi industri kelapa sawit terus digiatkan, termasuk melalui pemanfaatan limbah sawit sebagai bahan baku industri berteknologi tinggi. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengungkapkan bahwa Indonesia kini tengah mengejar ketertinggalan dalam pengembangan teknologi pengolahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS), yang selama ini lebih dulu dikembangkan di negara tetangga seperti Thailand.
“Kalau ditanya apakah pabriknya sudah ada, ya, di Thailand memang sudah ada yang memproduksi jenis-jenis bahan dari limbah sawit. Tapi kita tak mau tertinggal. Sekarang Indonesia mulai membawa teknologi itu ke dalam negeri, dan kita juga sudah bisa membuat bagian-bagian utamanya secara mandiri,” ungkap Putu dalam sebuah acara Seminar dihadiri InfoSAWIT, awal Juli 2025 lalu di Bandung.
Menurutnya, mesin-mesin dan teknologi fraksionasi TKKS saat ini sudah mulai dikembangkan di dalam negeri, termasuk lewat kerja sama dengan perguruan tinggi. Salah satunya dilakukan di wilayah Bogor, yang memiliki beberapa kebun sawit skala kecil sebagai lokasi uji coba.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode III-Juli 2025 Naik Rp107,04 per Kg
“Inovasi teknologinya kini terus berkembang. Salah satunya yang tengah dikembangkan di Banten. Sekarang kita sudah pada tahap yang lebih tinggi, tidak hanya membakar limbah sawit, tapi memanfaatkannya menjadi produk bernilai tambah seperti kertas berpori hingga plastik biodegradable untuk kemasan ramah lingkungan,” paparnya.
Lebih jauh, Putu menekankan bahwa pemanfaatan limbah sawit kini menyasar ke sektor-sektor bernilai tinggi. Misalnya, TKKS yang sebelumnya hanya dibakar atau diolah menjadi kompos kini bisa diolah menjadi karbon aktif, yang kemudian digunakan sebagai bahan baku supercapacitor — komponen penting dalam penyimpanan energi untuk kendaraan listrik dan perangkat elektronik.
“Bayangkan, dari limbah yang awalnya bernilai hanya USD 10-80 per ton, bisa menjadi produk akhir bernilai USD 140 atau bahkan lebih tinggi ketika sudah masuk ke tahap karbon aktif dan superkapasitor,” tambahnya.
BACA JUGA: India Geser Posisi, Jadi Importir Terbesar Benih Kelapa Sawit Malaysia
Kementerian Perindustrian menilai, langkah hilirisasi ini merupakan wujud sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk menciptakan ekosistem industri sawit yang tidak hanya berkelanjutan tetapi juga berorientasi pada inovasi dan teknologi.
“Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada ekspor minyak sawit mentah. Nilai tambah harus dikejar. Pemerintah serius, banyak kementerian terlibat, dan koordinasi terus berjalan,” ujar Putu.
Dengan pengembangan mesin lokal, kerja sama riset dengan universitas, dan dukungan kebijakan lintas sektor, Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk mentransformasi limbah sawit menjadi kekuatan baru industri hijau. (T2)
