InfoSAWIT, SAMARINDA — Komitmen Kalimantan Timur dalam mendorong transformasi menuju ekonomi hijau kembali ditegaskan melalui Putaran Pertama Forum Konsultasi Daerah (FKD) yang digelar di Hotel Mercure Samarinda, Kamis. Kegiatan ini difokuskan pada sektor kelapa sawit sebagai salah satu dari 15 kegiatan ekonomi prioritas, dan menjadi bagian penting dalam skenario transisi dari ekonomi ekstraktif menuju sistem ekonomi berkelanjutan.
Forum ini diselenggarakan oleh Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Kalimantan Timur, berkolaborasi dengan GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) dan Bappeda Kaltim. Diskusi strategis ini melibatkan lebih dari 50 pemangku kepentingan dari berbagai sektor: pemerintah daerah, pelaku industri sawit, akademisi, LSM, serikat buruh, kelompok petani, hingga komunitas lokal.
Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam Bappeda Kaltim, Wahyu Gatut Purboyo, dalam sambutan pembukaan menekankan bahwa sawit tidak lagi dipandang semata sebagai komoditas ekspor, melainkan sebagai pilar penting dalam mewujudkan transisi ekonomi yang lebih hijau dan berkeadilan.
BACA JUGA: Kaltim dan YKAN Perpanjang Kerja Sama Pengelolaan Alam Lestari Hingga 2030
“Kelapa sawit bukan sekadar komoditas, tapi pilar penting dalam transisi dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi berkelanjutan,” tegas Gatut dilansir InfoSAWIT dari Disbun Kaltim, Minggu (28/7/2025).
Diskusi dimoderatori oleh Iwied Wahyulianto dari GIZ Sustain Kutim, yang turut menyoroti pentingnya prinsip keadilan sosial dalam setiap tahapan transformasi, agar tidak ada kelompok yang tertinggal dalam proses peralihan ini.
Paparan utama disampaikan oleh Plt. Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Andi Siddik, yang menggarisbawahi pentingnya penguatan kelembagaan petani, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta integrasi rantai pasok sawit dari hulu ke hilir.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode I-Juli 2025 Turun Rp89,74 per Kg
“Transformasi ini bukan hanya soal peningkatan produksi, tetapi memastikan keberlanjutan dari hulu ke hilir dengan melibatkan semua pihak, dari petani kecil hingga korporasi besar,” ungkap Andi.
Menurutnya, pengelolaan sawit yang baik tidak hanya akan mendongkrak nilai tambah komoditas tersebut, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang merata sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
FKD Putaran Pertama ini menjadi wadah strategis untuk mendengarkan perspektif lintas pemangku kepentingan. Hadir dalam diskusi antara lain perwakilan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Triputra Agro Persada, kelompok tani sawit, perbankan, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil yang selama ini fokus pada isu keberlanjutan.
BACA JUGA: PTPN IV PalmCo Singgung Tantangan Industri Sawit, Dorong Kolaborasi dan Transformasi Digital
Dengan cakupan partisipasi yang luas, Pemerintah Provinsi Kaltim berharap diskusi ini dapat menjadi fondasi kuat untuk pembahasan teknis pada FKD Putaran Kedua mendatang.
“Sinergi dan kolaborasi adalah kunci. Kami ingin transformasi ekonomi sawit ini berjalan secara inklusif dan menghasilkan dampak nyata bagi seluruh masyarakat, khususnya petani kecil dan kelompok rentan,” ujar Andi Siddik. (T2)
