InfoSAWIT, SOLO — Terobosan dalam produksi batik ramah lingkungan kini menarik perhatian internasional. Sebanyak lima pelaku industri kreatif asal Malaysia mengikuti workshop membatik selama dua hari (28–29 Juli 2025) di Kampoeng Batik Laweyan, Solo. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) dengan dukungan dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), dan memperkenalkan malam sawit—malam batik berbasis stearin dari kelapa sawit berkelanjutan.
Workshop ini menjadi langkah penting dalam menjalin kerja sama lintas negara, sekaligus menunjukkan meningkatnya minat terhadap material ramah lingkungan di luar Indonesia. Para peserta mendapatkan pelatihan langsung dari para perajin batik di Laweyan, sekaligus penjelasan mendalam mengenai keunggulan malam sawit, baik dari sisi teknis, lingkungan, maupun keberlanjutan rantai pasok. Produk ini telah dikembangkan sejak 2022 sebagai alternatif malam berbasis minyak bumi yang selama ini lazim digunakan dalam proses membatik tradisional.
Ketua FPKBL, Alpha Febela Priyatmono menyampaikan bahwa kehadiran peserta dari Malaysia menjadi penanda bahwa industri batik tengah bergerak menuju arah baru.
BACA JUGA: Batik Sawit Hadir di Bandara Adi Sumarmo, Inovasi Hijau dari Kampoeng Laweyan
“Kehadiran mereka menunjukkan bahwa industri batik mulai lebih kolaboratif dan berpandangan ke depan. Workshop ini bukan hanya berbagi keterampilan, tapi juga menghubungkan dua ekosistem kreatif yang saling belajar dan menguatkan. RSPO membantu menjembatani kerja sama lintas sektor ini,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Jumat (1/8/2025).
Hal senada diungkapkan Deputy Director Market Transformation RSPO Indonesia, M Windrawan Inantha, yang menyebut bahwa workshop ini adalah awal dari perluasan pemanfaatan malam sawit ke luar negeri.
“Ini bukan promosi satu arah. Justru kami ingin belajar bersama, melihat potensi adopsi atau pengembangan lebih lanjut oleh komunitas batik dan tekstil di Malaysia. Kami juga menjajaki kolaborasi serupa di negara ASEAN lainnya seperti Thailand,” katanya.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw pada Kamis (31/7), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
Selain memperkenalkan inovasi bahan baku baru, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pelaku industri kreatif kini mulai terbuka terhadap penggunaan bahan berbasis kelapa sawit, asalkan diproses secara bertanggung jawab dan terverifikasi. FPKBL sendiri sedang dalam proses mendapatkan sertifikasi RSPO sebagai bentuk komitmen penuh terhadap prinsip keberlanjutan di seluruh rantai produksinya.
Dengan terselenggaranya workshop ini, malam batik sawit tidak lagi hanya menjadi eksperimen lokal, melainkan telah menjadi bagian dari gerakan regional menuju industri kreatif yang lebih hijau, kolaboratif, dan berorientasi pada nilai. (T2)
