InfoSAWIT, SOLO — Batik bukan sekadar kain bermotif indah, tetapi kini juga menjadi simbol perubahan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Inilah pesan utama dari Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) yang menghadirkan batik sawit—batik dengan malam berbahan dasar stearin dari kelapa sawit berkelanjutan—dalam sebuah pameran di ruang tunggu keberangkatan Bandara Adi Sumarmo, Solo.
Melalui kolaborasi dengan Batik Tjap Tiga Negri, salah satu pelaku batik legendaris di Laweyan, FPKBL memperkenalkan teknik malam batik ramah lingkungan yang tidak lagi bergantung pada parafin berbasis fosil. Sebagai gantinya, digunakan stearin sawit bersertifikat RSPO, menjadikan proses pembuatan batik lebih ramah lingkungan tanpa mengurangi nilai artistik dan tradisionalnya.
“Respons dari para penumpang luar biasa. Banyak yang terkejut malam batik bisa dibuat dari sawit, dan ini jadi ruang edukasi yang sangat efektif,” ujar Muchammad Nugroho, pemilik Batik Tjap Tiga Negri, dalam keterangannya kepada InfoSAWIT, Kamis (31/7/2025). Ia menambahkan bahwa kehadiran batik sawit di ruang publik seperti bandara membuka kesempatan dialog tentang pentingnya inovasi dalam menjaga warisan budaya.
Pameran ini bukan hanya menjadi ajang promosi produk, tapi juga bagian dari gerakan membangun kesadaran kolektif akan potensi batik Indonesia untuk bertransformasi secara ekologis. Inisiatif ini menegaskan bahwa batik sebagai warisan budaya tak hanya bisa dilestarikan, tetapi juga ditingkatkan secara berkelanjutan.
Bagi para pelancong yang melintasi Bandara Adi Sumarmo, pameran ini menjadi ruang singgah yang menyajikan nuansa budaya sekaligus pesan lingkungan. Kunjungi booth FPKBL – Batik Tjap Tiga Negri, dan saksikan bagaimana tradisi bertemu inovasi, menjadikan batik Indonesia tetap relevan, bertanggung jawab, dan membanggakan di panggung global. (T2)
