InfoSAWIT, BANDUNG — Institut Teknologi Bandung (ITB), PT Pertamina (Persero), PT Pindad (Persero), dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pada Kamis (7/8/2025), bertepatan dengan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 yang dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto.
Kerja sama ini berfokus pada pengolahan minyak nabati menjadi bahan bakar nabati, sekaligus memperkuat ekosistem energi terbarukan nasional dan mempercepat riset serta inovasi di bidang energi ramah lingkungan.
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri, Direktur Utama PT Pindad Sigit P. Santosa, dan Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman. Kesepakatan ini menandai sinergi lintas sektor antara dunia akademik, industri energi, dan manufaktur pertahanan.
BACA JUGA: 86 Petani Sawit Aceh Peroleh Pelatihan untuk Tingkatkan Hasil Panen
Ruang lingkup kolaborasi meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada teknologi pengolahan minyak nabati menjadi bahan bakar, pertukaran pengetahuan, serta pelibatan afiliasi masing-masing pihak.
Rektor ITB Prof. Tata menegaskan, kerja sama ini sejalan dengan misi kampus untuk menjawab tantangan energi berkelanjutan. “ITB siap berkontribusi melalui riset strategis dan inovatif guna mendukung pengembangan bahan bakar nabati yang ramah lingkungan dan berdaya saing,” ujarnya dikutip InfoSAWIT dari laman ITB, Senin (11/8/2025).
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyebut kolaborasi ini penting untuk memperkuat transisi energi. “Sinergi antara industri dan akademisi adalah kunci dalam menjawab kebutuhan energi masa depan,” katanya.
BACA JUGA: Laporan Investigasi Ungkap Dugaan Pelanggaran Sistematis oleh Dinasti Sawit Terkemuka
Sementara itu, Direktur Utama PT Pindad Sigit P. Santosa menilai dukungan akademik dari ITB akan memperkuat inovasi teknologi industri nasional. “Kami optimistis kolaborasi ini akan menghasilkan inovasi aplikatif yang mendukung kemandirian energi,” ucapnya.
Kolaborasi strategis ini diharapkan menjadi katalis lahirnya solusi inovatif berbasis sumber daya alam lokal, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta transisi energi global. (T2)
