InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah (CPO) tengah memasuki fase baru yang ditandai oleh volatilitas tinggi, seiring meningkatnya risiko geopolitik global yang membayangi prospek pemulihan keseimbangan pasar pada 2026.
RHB Investment Bank Bhd (RHB Research) dalam riset terbarunya menyatakan bahwa kombinasi kompleks dari konflik bersenjata yang meningkat, perubahan kebijakan biofuel Amerika Serikat, serta dinamika tarif perdagangan global menjadi beban utama bagi stabilitas pasar CPO.
Kondisi ini membuat RHB menurunkan rekomendasi sektor perkebunan dari “Overweight” menjadi “Neutral”, meskipun secara fundamental pasokan dan permintaan global diperkirakan akan lebih seimbang tahun depan.
BACA JUGA: 86 Petani Sawit Aceh Peroleh Pelatihan untuk Tingkatkan Hasil Panen
“Harga spot CPO telah turun dari kisaran RM4.800 per ton pada kuartal pertama tahun ini menjadi RM3.900–RM4.100 saat ini,” tulis RHB dalam catatan risetnya.
Penurunan harga ini, menurut RHB, utamanya dipicu oleh faktor geopolitik yang saling tumpang tindih — termasuk kebijakan tarif AS, konflik global yang berkepanjangan, dan koreksi tajam harga minyak mentah dunia.
Dilansir New Straits Times, RHB juga mencatat adanya perubahan signifikan dalam korelasi antara harga CPO dan minyak mentah Brent. Jika pada awal 2025 korelasinya negatif sebesar -0,6, kini berbalik menjadi positif sebesar 0,68, mencerminkan meningkatnya sensitivitas harga CPO terhadap pergerakan pasar energi.
BACA JUGA: Indonesia–Belarus Perkuat Kerja Sama Pertanian, Mentan Amran Dorong Ekspor CPO hingga Kakao
Di sisi lain, perubahan kebijakan energi di Amerika Serikat yang kini lebih memprioritaskan bahan baku biofuel domestik seperti kedelai, turut mengalihkan permintaan dari minyak nabati impor seperti canola asal Kanada. Hal ini mengubah peta permintaan minyak nabati global secara drastis.
Harga minyak kedelai sendiri tetap tinggi, terdorong oleh kebijakan mandat pencampuran biofuel AS yang diperluas hingga tahun 2027.
