“Secara fundamental, sawit tetap kuat dengan prospek pasokan yang membaik dan permintaan yang akan meningkat berkat harga yang kompetitif. Namun, faktor geopolitik kini menjadi ‘kartu liar’ yang bisa memicu gejolak harga mendadak,” catat RHB.
Sejalan dengan itu, proyeksi harga rata-rata CPO 2025 diturunkan dari RM4.300 menjadi RM4.100 per ton. Untuk 2026 dan 2027, harga diperkirakan akan turun lebih lanjut ke kisaran RM4.000 per ton.
Namun, berbeda dengan harga CPO, proyeksi harga inti sawit (palm kernel) justru dinaikkan menjadi RM3.300 per ton untuk 2025, dari sebelumnya RM2.800, seiring pasar minyak laurat yang semakin ketat.
BACA JUGA: Program SLV Apical di Aceh Singkil Catat Hasil Positif
Meski pasar menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, RHB tetap mengingatkan bahwa risiko penurunan masih besar. Di antaranya adalah eskalasi konflik geopolitik, perubahan tren harga minyak mentah yang berdampak pada kebijakan biodiesel, cuaca ekstrem, serta perubahan regulasi di negara produsen utama seperti Indonesia.
“Risiko volatilitas harga ke depan semakin tinggi,” tulis RHB, seraya menambahkan bahwa sentimen investor terhadap saham perkebunan cenderung akan tetap berhati-hati.
Menariknya, meski harga CPO sempat menguat pada awal tahun, harga saham perusahaan perkebunan belum menunjukkan lonjakan serupa, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap faktor eksternal. Namun, sektor ini tetap dipandang sebagai pilihan defensif di tengah ketidakpastian global.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik pada Jumat (8/8), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Menguat
“Saat harga CPO terkoreksi dari puncaknya, harga saham sektor ini relatif stabil. Ini menunjukkan daya tarik sektor perkebunan sebagai pelindung nilai (safe haven) dalam masa penuh gejolak,” jelas RHB. (T2)
