Deforestasi 2024 Meningkat 53%, Terbesar Pada Rezim Transisi

oleh -4.540 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Ilustrasi hutan.

InfoSAWIT, JAKARTA – Indonesia mencatat kehilangan hutan alam seluas 206 ribu hektare pada 2024, melonjak sekitar 53% dibanding tahun sebelumnya. Data dari laporan “Deforestasi di Rezim Transisi” yang dirilis Yayasan Madani Berkelanjutan, Kamis (8/8), menunjukkan masa transisi pemerintahan menjadi periode rawan deforestasi akibat lemahnya perlindungan hukum dan pengawasan.

Sebanyak 72% deforestasi terjadi di dalam kawasan hutan, terutama pada hutan produksi tetap. Kalimantan Timur, Riau, dan Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan kehilangan terbesar, termasuk area gambut dan kawasan konservasi. Ironisnya, 39 ribu hektare deforestasi terjadi di area moratorium hutan (PIPPIB) yang seharusnya menjadi benteng perlindungan hutan primer dan lahan gambut.

“Lebih dari separuh deforestasi berlangsung di wilayah yang sudah memiliki izin resmi. Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) menyumbang 66 ribu hektare, disusul perkebunan kelapa sawit sebesar 51 ribu hektare,” ujar Fadli Ahmad Naufal, GIS Specialist Madani Berkelanjutan dalam keterangan resminya diterima InfoSAWIT, pada Senin (11/8/2025). Sekitar seperempat deforestasi di area PBPH terjadi di ekosistem gambut yang berperan penting dalam menyimpan cadangan karbon.

BACA JUGA: Indonesia–Belarus Perkuat Kerja Sama Pertanian, Mentan Amran Dorong Ekspor CPO hingga Kakao

Kontribusi deforestasi juga datang dari proyek strategis nasional. Di Merauke, Papua Selatan, program Food Estate menghilangkan hampir 5 ribu hektare hutan alam. Sementara itu, ekspansi tambang nikel di pulau-pulau kecil seperti Gag dan Kawe di Raja Ampat melanggar ketentuan perlindungan pulau kecil dan merambah kawasan bernilai ekologis tinggi.

Madani Berkelanjutan juga menyoroti minimnya pengakuan hukum terhadap wilayah adat. Hingga Maret 2025, baru 330 ribu hektare Hutan Adat yang diakui negara, jauh dari potensi 32,3 juta hektare yang telah dipetakan Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA). Padahal, secara global, wilayah adat terbukti memiliki tingkat deforestasi lebih rendah.

BACA JUGA: Laporan Investigasi Ungkap Dugaan Pelanggaran Sistematis oleh Dinasti Sawit Terkemuka

“Deforestasi 2024 menjadi sinyal ancaman terhadap pencapaian target FOLU Net Sink 2030. Tanpa revisi kebijakan kehutanan dan perizinan yang lebih ketat, termasuk evaluasi proyek strategis, target iklim Indonesia terancam hanya menjadi janji di atas kertas,” tegas Yosi Amelia, Program Lead Iklim dan Ekosistem Madani Berkelanjutan. (T2)


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com