InfoSAWIT, BANDA ACEH — Aceh tengah mengirimkan sinyal kuat ke pasar global: provinsi ini siap menjadi teladan dunia untuk produksi kelapa sawit yang bebas deforestasi sekaligus inklusif bagi petani kecil.
Langkah itu ditandai dengan pembentukan Kelompok Kerja Kelapa Sawit Berkelanjutan Aceh, yang resmi diluncurkan Selasa (13/8). Inisiatif ini mempersatukan sembilan raksasa industri, mulai dari Apical hingga Unilever, bersama Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), dengan dukungan pemerintah daerah.
Bagi Aceh, kelapa sawit bukan sekadar komoditas unggulan. Ia adalah tulang punggung ekonomi daerah sekaligus bagian dari lanskap hutan hujan tropis seluas 3,5 juta hektar, termasuk Ekosistem Leuser—habitat terakhir gajah, harimau, badak, dan orangutan di dunia.
BACA JUGA: FORTASBI Rayakan 11 Tahun Perjuangan Petani Sawit Mandiri Menuju Keberlanjutan
“Pasar dunia menuntut pasokan yang bersih dari deforestasi. Aceh siap merespons dengan tata kelola yang transparan dan kolaborasi lintas sektor,” tegas Wakil Gubernur Aceh H. Fadhlullah dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Jumat, (15/8/2025) . Ia menekankan komitmen pemerintah untuk mempercepat legalitas lahan, registrasi petani, hingga membangun sistem pemantauan deforestasi provinsi.
Dukungan internasional pun mengalir. Duta Besar Belanda Marc Gerritsen menyebut Aceh “memimpin dengan tanggung jawab” lewat Peta Jalan Kelapa Sawit Berkelanjutan yang sudah diadopsi menjadi regulasi daerah. Sementara Nils Hermann Ranum, Utusan Khusus Norwegia untuk Iklim dan Hutan, melihat peluang Aceh memanfaatkan lonjakan permintaan global atas komoditas bebas deforestasi.
Di balik pertemuan resmi dan pidato, ada harapan besar: petani swadaya dapat lebih mudah masuk rantai pasok global, pabrik kelapa sawit dapat mengadopsi pembelian berkelanjutan, dan hutan-hutan Aceh dapat terjaga. Semua pihak sepakat—tidak ada informasi sensitif yang dibagikan, dan setiap perusahaan tetap memegang kendali kebijakan pengadaannya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 15-21 Agustus 2025 Naik Rp. 74,81 per Kg
“Aceh punya visi besar. Peta jalan ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga keberlanjutan dan keadilan,” kata Ketua Yayasan IDH Nassat Idris.
Kelompok Kerja ini bersifat terbuka, mengundang lebih banyak pihak yang berbagi visi yang sama. Jika terwujud, Aceh bukan hanya pemasok minyak sawit, tetapi juga model kemitraan global yang menyeimbangkan ekonomi, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakatnya. (T2)
