InfoSAWIT, BOGOR – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan terus memperkuat kesiapan para pemangku kepentingan menghadapi regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang akan berpengaruh besar terhadap akses komoditas perkebunan Indonesia ke pasar global.
Salah satu upaya yang ditempuh adalah melalui proyek Sustainability and Value Added in Agricultural Supply Chains in Indonesia (SASCI Plus), atau Keberlanjutan dan Nilai Tambah dalam Rantai Pasok Pertanian di Indonesia. Program ini merupakan kerja sama teknis antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Republik Federal Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ).
Dilansir InfoSAWIT dari DitjenBun, Rabu (3/9/2025), sejak Mei 2024, SASCI Plus bersama SAKA DALA menjalankan rangkaian kegiatan di bawah komponen EUDR Engagement. Inisiatif ini membuka ruang dialog antara pemerintah, petani, pelaku usaha, asosiasi, hingga akademisi untuk membahas kesiapan menghadapi EUDR sekaligus memperkuat daya saing komoditas perkebunan di pasar internasional.
BACA JUGA: Di Balik 1 Juta Hektare Sawit Sitaan, POPSI Tawarkan Skema Keadilan Bagi Petani
Direktorat Jenderal Perkebunan juga menggelar Workshop Kesiapan Stakeholder Menghadapi Pemberlakuan EUDR pada Jumat (22/8). Forum tersebut membahas pemahaman para pelaku usaha, asosiasi, hingga akademisi mengenai regulasi baru Uni Eropa, serta keterkaitannya dengan sistem Sertifikasi Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB).
Melalui forum ini, Kementan menekankan pentingnya sinergi lintas sektor agar komoditas unggulan Indonesia seperti karet, kakao, dan kopi mampu memenuhi standar internasional sekaligus mempertahankan daya saing di pasar global. (T2)
