Salah satu nilai unggul Pongamia terletak pada kemampuannya mengurangi emisi metana dari ternak. Serbuk protein dari biji Pongamia ketika digunakan sebagai suplemen pakan terbukti dapat menurunkan emisi ternak dalam tiga cara: meningkatkan kualitas nutrisi pakan, mempercepat waktu panen (turn-off time), dan meningkatkan persentase kelahiran sapi. Dengan emisi metana dari ternak menyumbang 66% emisi pertanian di Australia, intervensi ini menjadi sangat strategis.
Selain itu, Pongamia berkontribusi pada penyerapan karbon melalui pohon hidup dan pemanfaatan produk sampingan sebagai bahan bakar biomassa. Dalam konteks carbon forestry, keberadaan Pongamia dapat menjadi alternatif lestari dibandingkan jenis hutan tanaman lain yang seringkali mengorbankan lahan pangan.
Biofuel Generasi Kedua
Biodiesel generasi pertama—yang banyak menggunakan tanaman pangan seperti kedelai, jagung, dan kanola—telah menuai kritik karena berkompetisi dengan ketahanan pangan global. Di sisi lain, biofuel generasi kedua seperti yang dihasilkan dari Pongamia menggunakan bahan baku yang tumbuh di lahan non-produktif dan berasal dari limbah pertanian atau biomassa kayu.
BACA JUGA: Impor Kedelai Tiongkok Catat Rekor, Pertumbuhan Ekspor Melambat di Agustus
Dalam laporan Net Zero by 2050 oleh International Energy Agency (IEA), biofuel lanjutan (advanced biofuels) dianggap penting sebagai solusi transisi, terutama untuk sektor yang sulit dialihkan ke listrik seperti transportasi jarak jauh, pertambangan, dan penerbangan.
Penulis: Dadang Gusyana / Agronomist Consultant, Agriconsulting Europe S.A. (AESA), Brussels.
