InfoSAWIT, JAKARTA – Pongamia pinnata kian mencuri perhatian sebagai solusi bioenergi berkelanjutan di tengah krisis iklim dan kebutuhan akan bahan bakar alternatif. Tangguh di lahan marginal, mampu menyerap karbon, serta menghasilkan minyak nabati berkualitas tinggi, -tak kalah dengan kelapa sawit- tanaman leguminosa ini menawarkan potensi teknis dan ekonomi yang menjanjikan untuk dikembangkan di Indonesia.
Ketika dunia berpacu mengejar target net zero emissions pada 2050, sektor energi dan pertanian menjadi dua penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar yang menuntut solusi segera. Di tengah kebutuhan tersebut, Pongamia pinnata—pohon leguminosa yang dulu dikenal sebagai Millettia pinnata—muncul sebagai kandidat kuat penghasil bahan bakar hayati generasi kedua yang tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga menguntungkan secara ekonomi dan ekologis.
Pongamia sering disebut malapari tumbuh di daerah sub-tropis maupun tropis. Dihabitat aslinya malaparidapat tumbuh dengan rentang temperatur yang luas dan mampu bertahan pada lahan marginal. Rentang ketinggian antara 0 – 1.200 m diatas permukaan laut. Dapat tumbuh baik pada curah hujan rendah sekitar 400 mm dengan musim kemarau panjang. Secara alami tumbuh di hutan dataran rendah pada batu gamping dan karang berbatubatu di pantai, sepanjang sungai danau dan daerah pasang surut. Pertumbuhan terbaik pada tanah liat berpasir dalam, juga dapat tumbuh pada lahan berpasir dan tanah liat berat. Tanaman ini juga sangat toleran terhadap kekeringan, kadar garam dan pada kondisi alkali.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 10-16 September 2025 Naik Tipis
Karakter Unggul Pongamia
Sebagai anggota famili leguminosa, Pongamia memiliki kemampuan alami untuk menyuplai nitrogen dari atmosfer, menjadikannya tanaman ideal di lahan marjinal yang tak cocok bagi tanaman pangan. Lebih dari itu, tanaman ini memiliki toleransi tinggi terhadap panas, salinitas, dan banjir—kondisi yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim.
Penanaman Pongamia terutama dimaksudkan untuk mengambil minyak dari bijinya, yang memiliki kandungan lemak tinggi dan dapat diubah menjadi biodiesel generasi kedua. Dalam studi appraisal teknis dan ekonomi yang dilakukan AgriFutures Australia dan dikemukakan oleh John Smith, General Manager untuk Levied and Emerging Industries, nilai tambah Pongamia tak hanya terbatas pada minyaknya. Serbuk protein dari biji, polong sebagai biomassa energi, dan kontribusi penyerapan karbon menjadikan Pongamia sebagai pohon multi-manfaat.
Dengan potensi hasil minyak mencapai 3 ton per hektare (t/ha) dari biji dan tambahan 3 t/ha jika biomassa lainnya dikonversi menjadi bahan bakar, Pongamia berpeluang menyaingi—bahkan melampaui—kelapa sawit, yang selama ini dikenal sebagai tanaman penghasil minyak tertinggi dengan rata-rata 3,7 t/ha. Kelebihannya? Pongamia tumbuh dengan kebutuhan air lebih rendah dan tidak bersaing dengan lahan pangan.
BACA JUGA: Kementerian ATR Sebut Ada Tambahan 84 Ribu Hektare Kebun Sawit Masuk Kawasan Hutan
Studi terbaru menunjukkan internal rate of return (IRR) dari penanaman Pongamia bisa mencapai 13,5–15%, menjadikannya investasi yang menarik di kawasan Australia utara. Tantangan terbesarnya saat ini adalah mencapai skala produksi yang cukup besar untuk mendukung pendirian fasilitas pengolahan lokal.
