Instruktur pelatihan, Mirza Arif Zainal, menjelaskan biochar dihasilkan melalui pembakaran tak sempurna dengan oksigen terbatas pada suhu di atas 250 derajat Celcius selama dua jam atau lebih, tergantung jenis biomassa.
Sementara itu, Arif Firmansyah menekankan bahwa biochar memiliki nilai ekonomis tinggi. Permintaan terhadap biochar, baik dalam maupun luar negeri, terus meningkat seiring tumbuhnya kesadaran terhadap pertanian berkelanjutan. “Ini peluang besar bagi petani sawit. Biochar bisa dipasarkan mulai dari skala rumah tangga, komunitas, hingga perusahaan perkebunan,” ujarnya.
Menurut Arif, perkembangan industri biochar di Indonesia sudah menjangkau produksi skala kecil hingga pabrik besar. “Petani sawit dapat memanfaatkan biochar tidak hanya untuk kebunnya, tapi juga sebagai produk bernilai jual,” tegasnya. (T2)
