Bagi Ilham Majid dari Sophia Nusantara, Merauke, Papua Selatan, LOKADANA menjadi harapan baru. “Organisasi masyarakat sipil bisa menjalankan agenda sendiri, tanpa harus terikat mekanisme dari luar Papua,” katanya.
Melalui Panggilan Hibah Mikro Siklus-1, LOKADANA memberikan dukungan langsung bagi komunitas, kelompok perempuan, pemuda, dan inisiatif akar rumput. Skema ini sengaja dirancang tanpa birokrasi berlapis, agar dana benar-benar sampai ke mereka yang membutuhkan.
“Hibah ini bukan hanya soal pendanaan, tapi juga ruang belajar bersama. Dari siklus pertama, kami berharap muncul praktik baik dan solidaritas lintas komunitas untuk dasar siklus berikutnya,” ujar Tino.
BACA JUGA: Kuliah Perdana Poltek CWE: SDM Unggul Kunci Keberlanjutan Industri Sawit
Menjaga Kedaulatan Gerakan
Lokadaya sendiri merupakan jejaring 408 organisasi dari 38 provinsi, berdiri sejak 24 Maret 2021 oleh 62 organisasi. Jejaring ini fokus menggalang, berbagi, dan mengelola sumber daya domestik demi keberlanjutan kontribusi OMS. Inisiatif LOKADANA juga mendapat dukungan dari CO-EVOLVE 2, program Uni Eropa yang membantu OMS Indonesia beradaptasi dengan perubahan global.
LOKADANA lahir di tengah ruang sipil yang menyempit dan donor global yang kian menjauh. Namun dari keterdesakan itu, tumbuh jalan baru: pendanaan dari komunitas untuk komunitas.
“Setiap rupiah yang terkumpul adalah simbol kemandirian. Setiap hibah yang disalurkan adalah langkah memperkuat demokrasi dari bawah. Bersama, kita membangun arisan masyarakat sipil demi demokrasi dan keadilan yang berkelanjutan,” pungkas Tino. (T2)
