InfoSAWIT, MEDAN – Di tengah meningkatnya kesadaran akan bahaya plastik sekali pakai, sekelompok mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) menawarkan solusi kreatif lewat inovasi berkelanjutan bernama BIOFLAEIS—kemasan makanan ramah lingkungan berbahan dasar limbah pelepah kelapa sawit dan daun pepaya.
Inovasi ini lahir dari tangan mahasiswa Teknik Kimia dan Ekonomi Pembangunan USU melalui Program Kreativitas Mahasiswa – Kewirausahaan (PKM-K). Mereka adalah Shintia Florensia Silaban, Yeggin Damanik, Feodora Nicole Holongy Sitompul, Gita Triani Sinaga, dan Letminda Oftavya Purba, di bawah bimbingan Ilham Perkasa Bako.
“BIOFLAEIS bukan sekadar produk, tapi gerakan moral yang mengajak masyarakat peduli lingkungan,” ujar Shintia dilansir InfoSAWIT dari Universitas Sumatera Utara (USU), Selasa (14/10/2025). Menurutnya, limbah pelepah sawit dan daun pepaya dipilih karena mudah didapat serta kaya manfaat. Pelepah sawit mengandung selulosa dan hemiselulosa yang cocok dijadikan bahan biofoam, sementara daun pepaya memiliki senyawa antibakteri yang dapat menjaga kesegaran makanan.
BACA JUGA: PalmCo Didorong Jadi Jembatan Diplomasi Hijau Sawit Indonesia–Eropa
Produk ini menawarkan dua keunggulan sekaligus: biodegradable (mudah terurai di alam) dan fungsional untuk menjaga kualitas makanan. Dengan begitu, BIOFLAEIS menjadi alternatif nyata bagi kemasan styrofoam yang sulit terurai dan berpotensi berbahaya bagi kesehatan.
Dosen pembimbing Ilham Perkasa Bako menilai, inovasi ini menunjukkan bagaimana sains dapat diterapkan langsung untuk menjawab masalah sehari-hari. “Dari bahan yang dianggap limbah, mahasiswa bisa menghasilkan solusi bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan,” katanya.
Dari sisi pemasaran, tim mahasiswa memanfaatkan media sosial serta menjajaki kerja sama dengan UMKM kuliner, kafe, dan restoran yang mulai beralih ke produk berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mempercepat adopsi BIOFLAEIS di pasar, terutama di kalangan anak muda yang kini lebih sadar lingkungan.
BACA JUGA: REA Kaltim Bangun Kemitraan Sawit Inklusif di Kutai Kartanegara
Rektor USU Prof. Muryanto Amin, turut memberi apresiasi atas terobosan ini. Ia menegaskan, universitas harus menjadi ruang yang mendorong mahasiswa untuk mengembangkan inovasi berkelanjutan dan relevan dengan tantangan global. “Mahasiswa bukan hanya belajar teori, tapi juga menciptakan solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, tim BIOFLAEIS berencana memperluas produksi dengan melibatkan lebih banyak mitra lokal dan petani sawit, agar limbah pertanian bisa bernilai ekonomi lebih tinggi. (T2)
