InfoSAWIT, JAKARTA — Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus memperkuat diplomasi ekonomi hijau melalui pendekatan budaya dan komunikasi publik. Salah satunya ditunjukkan dalam acara Diskusi dan Pemutaran Film berjudul “Palm Oil in the Land of Orangutans”, hasil kolaborasi antara Indonesian Palm Oil Sustainability Support (IPOSS) dan KBRI Kopenhagen, dengan dukungan penuh dari Kemlu RI. Acara ini digelar di Hollywood XXI, Jakarta, Jumat (18/10/2025), dan dihadiri berbagai pemangku kepentingan, termasuk InfoSAWIT.
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI, Heru Hartanto Subolo, dalam sambutannya menegaskan bahwa minyak sawit bukan sekadar komoditas ekspor unggulan, tetapi juga cerminan komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan.
“Minyak sawit adalah salah satu ekspor penting Indonesia yang memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional, sekaligus menjadi bagian dari strategi diplomasi untuk memperluas akses pasar global bagi produk Indonesia,” ujar Heru.
BACA JUGA: Indonesia Siapkan Sistem Keterlacakan Nasional Hadapi Regulasi Antideforestasi Uni Eropa (EUDR)
Ia menjelaskan, film dokumenter ini menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan sisi lain industri sawit Indonesia yang berupaya menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Film tersebut juga menjadi bagian dari perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Denmark, sekaligus momentum penting memperkuat kemitraan di bidang perdagangan, transisi energi hijau, lingkungan, dan pertanian.
Heru menambahkan, beberapa waktu lalu, Indonesia dan Denmark telah menandatangani Action Plan untuk kerja sama strategis di berbagai sektor, termasuk pengembangan energi hijau. “Melalui film ini, kami berharap publik internasional bisa melihat bagaimana Indonesia terus berupaya menghadirkan praktik kelapa sawit berkelanjutan yang sejalan dengan agenda global mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.
Ia berharap, pemutaran film “Palm Oil in the Land of Orangutans” tidak hanya memperluas wawasan penonton, tetapi juga membangun pemahaman yang lebih seimbang tentang kontribusi positif minyak sawit Indonesia bagi ekonomi, lingkungan, dan masyarakat.
“Semoga film ini menjadi jembatan untuk memperkuat diplomasi sawit Indonesia, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa keberlanjutan dan pertumbuhan ekonomi bisa berjalan beriringan,” tutup Heru. (T2)
