Sementara itu, TA Research mempertahankan rekomendasi “buy” untuk TSH Resources Bhd dan United Malacca Bhd, serta menilai IOI Corp dan Kim Loong Resources dengan status “sell”.
MBSB menilai, potensi kenaikan harga bisa terjadi bila pasokan kedelai Amerika Selatan berkurang, permintaan minyak nabati global membaik, atau biaya produksi CPO turun signifikan.
Prospek Positif Jangka Menengah
Berbeda dengan pandangan lembaga lain, Hong Leong Investment Bank (HLIB) Research justru memberikan rekomendasi “overweight” untuk sektor ini. HLIB menilai harga CPO berpotensi menguat dalam jangka pendek hingga menengah, terutama bagi perusahaan yang berfokus pada operasi hulu di Malaysia.
BACA JUGA: Perlindungan Baru dari MK: Masyarakat di Kawasan Hutan Kini Tak Bisa Dijerat Sanksi
HLIB menempatkan SD Guthrie (target RM5,76) dan Hap Seng Plantations Holdings Bhd (target RM2,29) sebagai dua saham utama.
SD Guthrie dinilai unggul karena mulai diversifikasi ke energi terbarukan dan properti industri, sementara Hap Seng memiliki neraca keuangan kuat dan daya ungkit tinggi terhadap pergerakan harga CPO.
Menurut Kenanga Research, setelah kinerja kuat sepanjang 2025, laba sektor sawit kemungkinan datarnya atau melambat pada 2026. Banyak perusahaan besar kini mulai mendiversifikasi bisnis di luar sawit, seperti ke bidang properti, energi terbarukan, atau biomassa, sebagai upaya mencari sumber pertumbuhan baru. (T2)
