InfoSAWIT, PETALING JAYA — Para analis menilai prospek sektor perkebunan sawit masih berada dalam posisi “netral” untuk tahun depan, dengan harga minyak sawit mentah (CPO) diproyeksikan berkisar antara RM4.200–RM4.300 per ton pada 2025, dan sedikit melemah menjadi RM4.000–RM4.200 per ton pada 2026.
Menurut data terbaru Malaysian Palm Oil Board (MPOB) untuk September, stok minyak sawit nasional meningkat menjadi 2,36 juta ton, dipicu oleh naiknya ekspor yang tidak diimbangi dengan konsumsi domestik serta bertambahnya impor dan stok awal.
Laporan MBSB Research menyebut, arah pasar CPO ke depan masih “kabur” karena dinamika pasokan dan permintaan yang belum stabil. Salah satu faktor yang berpotensi memperketat suplai adalah kebijakan biodiesel Indonesia, terutama rencana penerapan B50 pada paruh kedua 2026.
BACA JUGA: ISPO Bisa Jadi Senjata Indonesia Hadapi EUDR, Prof. Ermanto: Bukti Kedaulatan Hukum di Sektor Sawit
Namun, meski harga sawit memiliki diskon cukup besar dibanding minyak kedelai, permintaan global masih belum menunjukkan peningkatan signifikan.
“Kami menurunkan peringkat saham Ta Ann Holdings Bhd dan Sarawak Plantation Bhd karena potensi kenaikannya terbatas,” tulis MBSB dalam laporannya dikutip InfoSAWIT dari The Star, Senin (20/10/2025).
Sebaliknya, MBSB kini memilih IOI Corp Bhd sebagai saham unggulan dengan rekomendasi “buy” dan target harga RM4,42, karena biaya produksi rendah dan tingkat utilisasi pabrik tinggi yang menopang margin keuntungan hingga 40%.
BACA JUGA: Petani Sawit Tergabung di SPKS Minta Presiden Prabowo Lindungi Petani Sawit di Kawasan Hutan
Kinerja Seimbang di Tengah Volatilitas Pasar
Phillip Capital Research memperkirakan harga CPO rata-rata pada 2025 berada di RM4.280 per ton, sejalan dengan proyeksi keseimbangan antara pasokan dan permintaan di tengah volatilitas pasar global.
Lembaga ini merekomendasikan Kuala Lumpur Kepong Bhd (KLK) dengan target harga RM22,62, didukung oleh operasi hulu yang efisien dan struktur biaya yang sehat.
