InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Dalam momentum Roundtable on Sustainable Palm Oil (RT2025) dan 22nd General Assembly of RSPO Members (GA22) yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 3–5 November 2025, suara petani sawit swadaya kembali mengemuka. Melalui Forum Petani Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI), para petani menegaskan pentingnya dukungan nyata terhadap keberlanjutan, terutama dalam bentuk pembelian kredit sertifikasi RSPO.
Bagi petani sawit swadaya, insentif dari kredit keberlanjutan menjadi kunci untuk mempertahankan komitmen terhadap prinsip dan kriteria RSPO. “Tanpa dukungan insentif, sulit bagi petani untuk terus menjaga praktik berkelanjutan di tengah tantangan pasar dan biaya sertifikasi,” ujar perwakilan FORTASBI dikutip InfoSAWIT, Jumat (7/11/2025).
Mereka menilai, skema kredit RSPO bukan sekadar penghargaan atas praktik ramah lingkungan, tetapi juga instrumen yang mampu menumbuhkan motivasi dan memperkuat posisi petani di rantai pasok global. Dengan adanya insentif, produk sawit berkelanjutan diharapkan semakin mendominasi pasar dunia dan memperkuat reputasi positif Indonesia di sektor ini.
BACA JUGA: 12 Kelompok Tani di Ketapang Raih Sertifikat RSPO di RT2025 Kuala Lumpur, Meliputi 1.223 Petani
FORTASBI juga menyoroti perlunya langkah konkret dari seluruh pihak—mulai dari pembeli (buyer), industri hilir, hingga lembaga sertifikasi—untuk memperbaiki strategi pasar. Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat pembeli terhadap kredit RSPO yang dihasilkan oleh petani sawit swadaya.
“Selama ini, hasil dari pembelian kredit oleh buyer telah memberikan dampak nyata, baik di bidang lingkungan maupun sosial,” kata perwakilan forum. Sejumlah inisiatif yang lahir dari insentif tersebut mencakup pembangunan jalan produksi, pengelolaan kawasan konservasi tinggi, penjagaan sungai, serta upaya pelestarian keanekaragaman hayati termasuk adopsi orangutan dan penerapan pertanian regeneratif.
Tak hanya itu, dampak sosialnya juga dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar perkebunan. Insentif dari pembelian kredit digunakan untuk mendukung pendidikan—mulai dari pemberian beasiswa, penyediaan alat belajar, hingga bantuan bagi guru dan perbaikan ruang kelas.
BACA JUGA: Bumitama dan IDH Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Hijau di Kalimantan Barat
FORTASBI menegaskan bahwa dukungan kelembagaan dan pendanaan tetap menjadi kebutuhan mendesak bagi petani sawit swadaya di Indonesia. Tanpa pendampingan yang kuat, penerapan prinsip dan kriteria RSPO bisa terhambat, terutama bagi kelompok kecil di daerah yang aksesnya terbatas.
“Upaya petani sawit swadaya dalam menjaga keberlanjutan harus menjadi bagian dari komunikasi global RSPO. Pembeli perlu melihat langsung dampak positif dari kredit yang mereka beli,” tegas forum tersebut.
RT2025 menjadi ruang strategis bagi petani, pelaku industri, dan pembuat kebijakan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Harapannya, inisiatif keberlanjutan yang lahir dari akar rumput—seperti yang dilakukan oleh FORTASBI dan para petani sawit swadaya—bisa terus mendapatkan dukungan agar minyak sawit Indonesia semakin berdaya saing di pasar global yang menuntut transparansi dan keberlanjutan. (T2)
