InfoSAWIT, KETAPANG – Komitmen menuju Net Zero Emission 2060 dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 terus diwujudkan oleh PT Bumitama Gunajaya Agro (Bumitama) melalui langkah nyata di lapangan. Bersama IDH (Inisiatif Dagang Hijau), perusahaan ini melanjutkan kolaborasi strategis untuk memperkuat pengelolaan lanskap berkelanjutan di Kalimantan Barat, khususnya melalui pendekatan Production–Protection–Inclusion (PPI Compact) yang menyeimbangkan produktivitas, konservasi, dan kesejahteraan masyarakat.
Kolaborasi ini bukan hal baru. Sejak 2018, Bumitama dan IDH telah menggulirkan berbagai program dalam Bumitama Biodiversity and Community Project (BBCP) — sebuah inisiatif yang memadukan konservasi hutan, peningkatan kapasitas petani kecil, serta pemberdayaan masyarakat lokal di sekitar wilayah operasi.
Pada tahun 2025, kemitraan ini berlanjut dengan peluncuran Program Sekolah Desa Berdaya, yang dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat desa dalam mengelola sumber daya alam secara produktif dan bertanggung jawab. “Tanpa IDH, kami tidak akan memperoleh izin utama untuk mengelola area konservasi sebagai bagian dari izin operasional kami,” ujar Martin Mach, Head of Environmental Protection & Governance Bumitama, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (6/11/2025). Pernyataan ini menegaskan bahwa keberlanjutan hanya bisa tercapai melalui kolaborasi lintas sektor.
BACA JUGA: RSPO RT2025 Resmi Ditutup: Dua Dekade Komitmen Global untuk Minyak Sawit Berkelanjutan
Fokus utama program PPI Compact ini berada di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, khususnya di koridor konservasi Gunung Tarak – Gunung Palung – Sungai Putri, mencakup area lebih dari 8.000 hektar. Sejumlah desa binaan seperti Nanga Tayap, Simpang Dua, dan Kendawangan terlibat aktif dalam kegiatan konservasi dan sosial, mulai dari penanaman pohon, rehabilitasi lahan kritis, hingga pembentukan kelompok tani perempuan dan pelatihan agronomi berkelanjutan.
Selain itu, pelatihan dan pendampingan ekonomi turut menjadi bagian penting dari upaya pemberdayaan masyarakat. Tercatat hingga kini, sekitar 25.000 hektar hutan telah dikonservasi, dengan lebih dari 60 pelatihan High Conservation Value (HCV) dan mitigasi kebakaran diikuti oleh 1.389 warga. Sementara itu, 469 petani kecil independen telah mendapat pelatihan pertanian sawit berkelanjutan, dan 434 warga mengikuti pelatihan usaha alternatif. Bahkan, 234 dokumen legalisasi lahan masyarakat telah diterbitkan, sementara area konservasi seperti Rimbak Sangiang kini berkembang menjadi destinasi ekowisata berbasis masyarakat.
“Tiga aspek — produksi, proteksi, dan inklusi — harus hadir dalam setiap proyek kolaboratif seperti ini,” jelas Sacha Amaruzaman, Senior Program Manager IDH. “Kolaborasi IDH dan Bumitama di Ketapang menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan lanskap dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.”
BACA JUGA: Fortasbi: Keberlanjutan Sawit Harus Berjalan Bersama Petani
Ke depan, Bumitama dan IDH berencana memperkuat sistem pemantauan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat lokal serta dukungan aktif dari pemerintah daerah. Melalui sinergi ini, keduanya bertekad membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua sisi dari satu tujuan bersama — Kalimantan Barat yang lebih hijau, inklusif, dan berketahanan. (T2)
