InfoSAWIT, PALANGKA RAYA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menegaskan komitmennya mengembangkan sektor kelapa sawit dan peternakan secara terpadu melalui Program Sistem Integrasi Sapi–Sawit (SISKA). Program ini dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan pangan, mendorong swasembada daging, sekaligus menopang industri sawit yang berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Edy Pratowo, saat membuka Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Peternakan dan Kesehatan Hewan di Aula Eka Hapakat, Kantor Gubernur Kalteng, Selasa.
“Potensi kelapa sawit dan peternakan sapi di Kalimantan Tengah sangat besar. Karena itu, pemerintah provinsi fokus mengambil langkah konkret untuk mengintegrasikannya melalui Program Sistem Integrasi Sapi–Sawit,” ujar Edy, dilansir InfoSAWIT dari Pemprov Kalteng, Rabu (17/12/2025).
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 17 – 23 Desember 2025 Naik Rp. 23,61 per Kg
Dalam rakortek tersebut, Edy menjelaskan bahwa pembahasan difokuskan pada tiga program strategis yang menjadi pilar penguatan ketahanan pangan daerah, yakni SISKA, hilirisasi peternakan ayam terintegrasi, serta pencegahan dan penanggulangan Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS).
Menurut Edy, SISKA dirancang dengan prinsip saling menguntungkan antara perusahaan perkebunan sawit dan peternak sapi. Kotoran sapi dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk kebun sawit, sementara peternak memperoleh tambahan pendapatan dari pengelolaan pupuk tersebut. “Tujuan ganda program ini adalah meningkatkan produktivitas sawit sekaligus mendorong kesejahteraan peternak,” jelasnya.
Ia menambahkan, penerapan SISKA akan menciptakan ekosistem usaha yang lebih efisien, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dan peternakan. Untuk itu, Edy meminta dukungan seluruh pemangku kepentingan, khususnya perusahaan dan asosiasi perkebunan sawit, agar program ini dapat berjalan optimal di lapangan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun Pada Selasa (16/12), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Tertekan
Selain itu, Pemprov Kalteng juga berharap dukungan pemerintah pusat, terutama Kementerian Pertanian, melalui pendampingan teknis, penyediaan bibit sapi unggul, fasilitasi akses permodalan, hingga pengembangan pasar bagi petani dan peternak di daerah.
Terkait hilirisasi peternakan ayam terintegrasi, Edy menyampaikan bahwa pemerintah pusat akan merealisasikan program peningkatan populasi ayam pedaging dan petelur guna mendukung konsep Setiap Pulau Mandiri Protein. Ia pun meminta para bupati dan wali kota mendorong pengembangan budidaya jagung sebagai bahan baku pakan.
“Perusahaan perkebunan sawit juga kami harapkan dapat menyediakan Bungkil Inti Sawit (BIS) sebagai bahan baku pakan ternak. Pemprov Kalteng telah membangun pabrik pakan ternak agar hilirisasi ini saling mendukung,” katanya.
BACA JUGA: Prof. Chairil Anwar Siregar: Ajak Jangan Buru-Buru Salahkan Sawit, Ketika Langit Menurunkan Murkanya
Sementara itu, dalam penanganan PHMS, Edy menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak. Untuk Kalimantan Tengah, fokus pengendalian diarahkan pada Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Demam Babi Afrika, dan Rabies, yang berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi dan risiko kesehatan masyarakat.
Rakortek tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Pertanian, para kepala daerah se-Kalteng, pimpinan perusahaan perkebunan sawit, asosiasi terkait, serta insan media. Edy optimistis, dengan sinergi yang kuat, ketiga program strategis tersebut mampu mendukung prioritas nasional menuju swasembada pangan dan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Tengah. (T2)
