InfoSAWIT, JAKARTA – Hujan belum sepenuhnya reda ketika perbincangan tentang banjir bandang dan longsor kembali memenuhi ruang publik. Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh menjadi panggung terbaru dari musibah hidrometeorologi yang datang bertubi-tubi. Di balik riuhnya tuding-menuding—deforestasi, tambang, sawit—Prof. Dr. Chairil Anwar Siregar justru mengajak melihat ke arah lain: langit.
Di ruang kerjanya di kawasan Gunung Batu, Bogor, Jumat pagi, Profesor Riset sekaligus Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Ekologi BRIN itu berbicara tenang, nyaris filosofis. Menurutnya, bencana yang terjadi belakangan ini adalah pelajaran pahit tentang iklim yang kian ekstrem.
“Bayangkan hujan deras, intensitas tinggi, turun berhari-hari tanpa jeda. Lapisan tanah itu akhirnya melumer. Siapa yang sanggup menahannya?” kata Chairil dikutip InfoSAWIT, dari greenindonesia.co, Selasa (16/12/2025).
BACA JUGA: Sawit di Tengah Kampanye Hitam dan Kebijakan yang Salah Arah
Baginya, apa yang terjadi di Sumatera bukanlah kejutan. Itu adalah bagian dari proses alam yang bergerak menuju satu arah: meningkatnya energi yang merusak. Alam, kata Chairil, bahkan tanpa disentuh manusia, tetap memiliki siklus kehancurannya sendiri.
“Dinosaurus pun punah tanpa campur tangan manusia,” ujarnya, sembari mengingatkan bahwa dalam pandangan kosmis—bahkan religius—tak ada yang benar-benar abadi. “Alam ini memang menuju kehancuran. Tidak ada yang sepenuhnya berkelanjutan di dunia.”
Tanah yang Melumer
Untuk menjelaskan proses longsor, Chairil memilih perumpamaan sederhana. Lapisan tanah paling atas—solum—ia ibaratkan seperti sepotong roti tawar. Rapuh, berpori, dan mudah menyerap air. Di bawahnya ada lapisan batuan lunak, lalu batuan keras yang menjadi fondasi.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun Pada Senin (15/12), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Melemah
“Kalau hujan biasa, tanah masih sanggup menahan. Tapi kalau hujan deras terus-menerus, pori-porinya jenuh. Seperti roti yang direndam air, dia akan melumer,” ujarnya.
Di wilayah Bukit Barisan yang bertopografi miring, situasi menjadi lebih rumit. Lapisan tanah yang jenuh air berada di atas batuan lunak, lalu dibebani vegetasi dengan tonase besar. Maka, saat keseimbangan terganggu, tanah pun tergelincir.
“Hutan tanaman beratnya bisa 100 ton per hektare. Hutan alam bahkan 300 sampai 400 ton. Itu energi potensial. Tanpa hujan pun sudah menjadi ancaman,” kata Chairil.
Ketika tanah, kayu, dan material lain hanyut ke bawah, sungai dan cekungan pun tersumbat. Pada titik tertentu, bendungan alami itu jebol. Banjir bandang dan longsor datang bersamaan, menyapu desa dan kota tanpa ampun.
Seperti Ledakan
Pandangan Chairil kerap dianggap melawan arus. Ia tidak menafikan peran deforestasi, tambang, atau perkebunan sawit. Namun, semua itu, menurutnya, hanyalah faktor tambahan. Penyebab utamanya adalah hujan ekstrem akibat perubahan iklim.
“Jadi buat apa ribut dan saling menyalahkan?” ujarnya singkat.
