Ia lalu menarik analogi yang mengejutkan: bom nuklir. Chairil menghitung energi hujan ekstrem dengan pendekatan fisika sederhana. Butiran hujan berdiameter dua milimeter, jatuh dengan kecepatan sembilan meter per detik selama 12 jam, menghasilkan energi kinetik hingga 50 juta kilojoule per 1.000 hektare.
“Kalau 24 jam tanpa henti, kekuatannya bisa melebihi bom atom,” katanya. “Bayangkan dampaknya.”
Dengan curah hujan mencapai 400 milimeter dalam sehari, Chairil menegaskan, hutan sebaik apa pun tak akan sanggup bertahan. Ia bahkan menyebut, dalam beberapa kejadian, kebun kelapa sawit justru tetap utuh dan sempat menjadi tempat mengungsi warga.
BACA JUGA: Menyibak Kuasa Negara di Balik Sengkarut Hak Tanah
“Jangan buru-buru menyalahkan sawit,” ujarnya.
Pilihan yang Tak Terelakkan
Jika iklim ekstrem menjadi keniscayaan, Chairil melihat masa depan dengan jarak antarbencana yang makin rapat. Dengan karakter tanah dan topografi seperti di Aceh, Sumut, dan Sumbar, risiko bencana serupa tetap membayangi.
Karena itu, ia mengajukan satu solusi yang terdengar keras, tapi realistis: relokasi.
BACA JUGA: Ribuan Kilometer Jalan Kebun Sawit Petani Swadaya di Aceh Rusak Parah, Distribusi TBS Terhambat
“Cari lokasi aman. Bangun permukiman baru. Pindahkan masyarakat,” katanya tegas. Pemerintah, menurutnya, juga harus serius menyusun peta rawan bencana dan benar-benar menjalankannya, bukan sekadar dokumen.
Rehabilitasi dan reboisasi tetap penting, namun harus dilakukan dengan strategi yang cermat. Tidak semua lahan cocok ditanami hutan berat. Pemilihan jenis tanaman dan kesesuaian lahan menjadi kunci.
“Alam punya hukumnya sendiri,” kata Chairil, menutup pembicaraan. “Tugas kita bukan melawannya, tapi memahami batasnya.” (T2)
