InfoSAWIT, MENDALO — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jambi (UNJA) menggelar kegiatan Diseminasi Riset Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Tahun 2024 dengan mengusung tema “Percepatan Pengelolaan Ekosistem Sawit Berkelanjutan Melalui Transformasi Komunitas Partisipatif”. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Lantai 1 Gedung UNIFAC UNJA Mendalo, Rabu.
Diseminasi ini menjadi ruang berbagi hasil riset kolaboratif yang menempatkan komunitas sebagai aktor utama dalam mendorong pengelolaan sawit berkelanjutan. Riset dipimpin oleh Prof. Rosyani, dengan dukungan tim lintas institusi yang melibatkan akademisi, peneliti, hingga perwakilan kementerian dan praktisi kebijakan.
Dalam paparannya, tim peneliti menegaskan bahwa kelapa sawit memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional, namun di saat yang sama menghadapi tantangan besar terkait keberlanjutan lingkungan dan sosial. Melalui riset ini, LPPM UNJA bersama BPDP mengembangkan pendekatan berbasis kekuatan komunitas untuk mentransformasi tata kelola ekosistem sawit agar lebih berkelanjutan dan inklusif.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode I-Desember 2025 turun Rp 60,66 per Kg
Studi kasus riset dilakukan di Desa Pematang Kabau, Kabupaten Sarolangun, yang selama ini bergantung pada perkebunan sawit monokultur dan menghadapi kerentanan ekologis akibat alih fungsi lahan. Riset mendorong petani tidak hanya sebagai produsen bahan baku, tetapi sebagai penggerak ekonomi hijau melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular dan pemanfaatan produk turunan sawit bernilai tambah. Untuk mempermudah pemahaman dan memperluas dampak, hasil riset juga dikemas dalam bentuk film dokumenter penelitian.
Prof. Rosyani menjelaskan bahwa riset ini menggunakan pendekatan aksi partisipatif, bukan pendekatan top-down. Data lapangan dan uji coba model dilakukan secara langsung bersama masyarakat. Pendampingan riset telah membentuk enam Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang memperoleh dukungan pendanaan dari BPDP.
“Kami mengusulkan Desa Pematang Kabau sebagai desa laboratorium terpadu atau Desa DLT, agar kegiatan penelitian dan pengabdian dapat dilakukan secara berkelanjutan dan terukur,” ujar Prof. Rosyani, dikutip InfoSAWIT dari UNJA, Jumat (19/12/2025).
BACA JUGA: Sawit Watch Tolak Ekspansi Sawit di Papua: Ancaman Bencana Ekologis dan Konflik Agraria
Sekretaris LPPM UNJA, Drs. Marzul Hidayat, menekankan bahwa penelitian harus memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah. “Penelitian tidak boleh berhenti di laporan akademik. Dampaknya harus dirasakan langsung, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan sumber daya alam di Provinsi Jambi,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten II Setda Provinsi Jambi, H. Syamsurizal, menilai riset kolaboratif UNJA dan BPDP sebagai contoh penting sinergi riset dan kebijakan. Menurutnya, inovasi berbasis kolaborasi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas sawit tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Apresiasi juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Sarolangun. Ir. Dedy Hendry menyebut riset ini berhasil menunjukkan potensi masyarakat desa untuk berkembang melalui pendampingan yang tepat. Model transformasi komunitas partisipatif dinilai sebagai praktik baik yang layak direplikasi di wilayah lain, dengan dukungan kolaborasi pemerintah daerah, pemerintah desa, penyuluh, dan sektor swasta. (T2)
