InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Harga kontrak berjangka minyak sawit Malaysia menguat pada perdagangan Selasa, didorong ekspektasi penurunan produksi akibat cuaca serta aktivitas short covering menjelang periode libur.
Harga kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Maret 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat naik RM 25 per ton atau naik 0,62 persen ke level RM 4.072 per ton pada jeda perdagangan siang. Penguatan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga terkoreksi, sekaligus mematahkan tren kenaikan empat sesi berturut-turut.
Dilansir Reuters, Direktur perusahaan pialang Pelindung Bestari yang berbasis di Selangor, Paramalingam Supramaniam, pasar kembali bangkit seiring munculnya indikasi bahwa produksi minyak sawit pada Desember berpotensi lebih rendah. Penyebabnya, curah hujan diperkirakan meningkat di wilayah Malaysia Timur, khususnya di negara bagian Sarawak.
BACA JUGA: Pertanian Regeneratif, Kunci Perbaiki Kebun Sawit Rakyat Guna Dongkrak Produktivitas
Badan Meteorologi Malaysia sebelumnya memperingatkan adanya gelombang monsun pada 1–5 Januari yang berpotensi membawa hujan lebat di Sarawak, disertai angin kencang dan gelombang tinggi di Laut China Selatan.
“Kami juga melihat adanya aktivitas short covering hari ini menjelang libur,” ujar Supramaniam. Meski demikian, ia menilai penguatan harga akan terbatas oleh melemahnya permintaan, penguatan nilai tukar ringgit, serta rekor panen kedelai di Amerika Selatan.
Di pasar minyak nabati global, harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian tercatat naik 0,33 persen, sementara harga kontrak minyak sawit di bursa yang sama menguat 0,84 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga menguat tipis sebesar 0,24 persen.
Minyak sawit kerap mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaingnya karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati dunia. Sementara itu, harga minyak mentah global justru melemah setelah sempat melonjak lebih dari 2 persen pada sesi sebelumnya. Pelemahan tersebut sebagian dipicu koreksi harga logam mulia, meski ketegangan Rusia–Ukraina masih menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan.
Turunnya harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel. Di sisi lain, penguatan ringgit—mata uang perdagangan minyak sawit—sekitar 0,17 persen terhadap dolar AS turut membuat komoditas ini relatif lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang asing.
Kombinasi faktor cuaca, pergerakan mata uang, dan dinamika pasar global diperkirakan masih akan menentukan arah harga minyak sawit dalam waktu dekat. (T2)
