InfoSAWIT, JAKARTA — Pendekatan pertanian regeneratif dinilai semakin relevan untuk menjawab persoalan keberlanjutan kebun sawit rakyat di Indonesia. Konsep ini bukan hal baru, namun kembali mendapat perhatian seiring menurunnya kesehatan tanah dan produktivitas kebun, terutama di sentra-sentra sawit seperti Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, hingga Lampung.
Oil Palm Advisor SNV Indonesia, Dani Rahadian, menjelaskan bahwa pertanian regeneratif pada dasarnya merupakan pendekatan pengelolaan lahan untuk merestorasi atau membangun kembali kesehatan ekosistem. Dalam konteks perkebunan kelapa sawit global, konsep ini menempatkan kesehatan tanah sebagai fondasi utama praktik pertanian berkelanjutan.
“Pertanian regeneratif itu bukan konsep baru. Sudah lama berkembang dan dipraktikkan. Namun, yang penting adalah bagaimana konsep dasarnya bisa dikontekstualisasikan dan dilokalisasikan sesuai dengan realitas kebun sawit, khususnya petani swadaya,” ujarnya dikutip InfoSAWIT dalam Small Talk (Smallholder Talk) Fortasbi, Selasa (30/12/2025).
Dalam praktik perkebunan sawit, pendekatan regeneratif dipadukan dengan penerapan praktik pengelolaan kebun yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP). Tujuannya adalah meningkatkan produktivitas dengan biaya yang efektif, sekaligus mengurangi ketimpangan hasil panen antar kebun.
Menurut Dani, pendekatan lokal menjadi kunci. Konsep yang berkembang secara global perlu diterjemahkan agar sesuai dengan kondisi riil petani sawit swadaya, yang umumnya menghadapi keterbatasan modal, pengetahuan teknis, dan akses pendampingan. Dengan kontekstualisasi tersebut, peningkatan produksi tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga pada kontribusi positif terhadap lingkungan sekitar.
Berdasarkan pengalamannya sejak 2008 mendampingi sektor sawit, serta aktif secara intensif sejak 2014 dalam program pendampingan petani, Dani menyoroti persoalan efisiensi budidaya. Hasil survei di salah satu kabupaten sentra sawit beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa tingkat efisiensi pemupukan petani masih sangat rendah.
BACA JUGA: Harga Minyak Sawit, Senin (29/12) Tertekan Stok Tinggi, Reli Jangka Pendek Terancam
Sekitar 37 persen petani diketahui melakukan pemupukan tidak sesuai prinsip “empat tepat”, yakni tepat jenis, dosis, waktu, dan lokasi. Banyak petani masih mengandalkan pupuk tunggal dengan dosis yang tidak seimbang. Padahal, idealnya pemupukan didasarkan pada analisis daun dan tanah untuk mengetahui kebutuhan nutrisi kebun selama satu tahun.
Dampak dari praktik yang kurang tepat ini cukup serius. Kesehatan dan kesuburan tanah terus menurun, tanah menjadi semakin padat, erosi meningkat, dan perawatan kebun cenderung diabaikan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko serangan penyakit, seperti Ganoderma boninense, yang kerap menyerang tanaman sawit tua dengan kondisi nutrisi yang buruk.
“Inilah risiko dari praktik perkebunan konvensional dan tradisional yang dilakukan tanpa panduan baku. Petani sering kali hanya ikut-ikutan, tanpa memahami kondisi tanahnya,” kata Dani.
Ia mengibaratkan tanah sebagai “piring” tempat makanan disajikan. Jika piringnya retak atau rusak, sebaik apa pun makanan yang disediakan tidak akan bisa dimanfaatkan dengan optimal. Begitu pula dengan kebun sawit, nutrisi yang diberikan tidak akan terserap dengan baik jika kondisi tanah tidak sehat.
