InfoSAWIT, KARACHI – Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri bertemu dengan Menteri Perdagangan Pakistan Jam Kamal Khan di Karachi, Pakistan, Jumat (9/1). Pertemuan bilateral ini menegaskan komitmen kedua negara untuk memperluas kerja sama dagang dengan menindaklanjuti hasil kunjungan Presiden RI ke Islamabad pada Desember 2025, yang menyepakati peningkatan Indonesia–Pakistan Preferential Trade Agreement (PTA) menjadi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada 2027.
Dalam pertemuan tersebut, Wamendag Roro mendorong agar proses perundingan dapat dipercepat. Indonesia mengusulkan kelanjutan negosiasi pada awal 2026 sekaligus identifikasi sektor-sektor potensial dari kedua negara agar manfaat CEPA dapat dirasakan lebih cepat dan luas.
“Indonesia mendorong perluasan kerja sama melalui CEPA. Kami mengusulkan agar negosiasi dilanjutkan pada awal 2026 dan sektor-sektor potensial kedua negara dapat segera diidentifikasi,” ujar Wamendag Roro dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Senin (12/1/2026). Ia juga mengusulkan perluasan kerja sama di bidang jasa, khususnya sektor kesehatan melalui penyediaan dokter dan perawat, mengingat peran strategis sektor tersebut bagi kedua negara.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode I-Januari 2026 Naik Rp 13,37 per Kg
Selain isu bilateral, kedua pihak membahas penguatan kerja sama perdagangan regional, termasuk implementasi Developing-8 Organization for Economic Cooperation Preferential Trade Agreement (D-8 PTA). Indonesia menyambut baik implementasi D-8 PTA oleh Pakistan sejak 1 Januari 2025 serta mendukung posisi Pakistan sebagai Secretary General D-8 yang akan menggantikan Nigeria pada 2026. Sejalan dengan Keketuaan Indonesia di D-8 periode 2026–2027, Indonesia menegaskan komitmen mendorong perluasan D-8 PTA menuju kemitraan ekonomi yang lebih komprehensif.
“Indonesia meyakini implementasi penuh D-8 PTA oleh seluruh negara anggota akan memperkuat integrasi ekonomi dan mendorong perdagangan yang saling menguntungkan. Ke depan, Indonesia akan memprioritaskan perluasan PTA D-8 menjadi CEPA selama kepemimpinan D-8 2026–2027 dan berharap dukungan Pakistan,” tegas Wamendag Roro.
Pada sektor strategis, Pakistan tetap menjadi pasar penting minyak sawit Indonesia. Negara tersebut tercatat sebagai pengimpor sawit Indonesia terbesar ketiga setelah India dan Republik Rakyat Tiongkok, dengan nilai impor mencapai USD 2,77 miliar pada 2024. Wamendag Roro menegaskan bahwa kebijakan domestik Indonesia, termasuk program biodiesel B30 yang akan ditingkatkan menjadi B50 pada 2026, tidak akan mengganggu ekspor sawit ke Pakistan sebagai mitra dagang jangka panjang.
BACA JUGA: Diplomasi Sawit Perkuat Kemitraan RI–Pakistan di Usia 75 Tahun Hubungan Bilateral
Indonesia juga mengapresiasi undangan Pakistan kepada Wamendag Roro sebagai tamu kehormatan dan pembicara utama pada pembukaan Pakistan Edible Oil Conference yang akan digelar di Karachi pada 10 Januari 2026. Forum tersebut dinilai strategis untuk menyampaikan pesan positif berbasis fakta mengenai keberlanjutan dan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar global.
Sementara itu, Mendag Pakistan Jam Kamal Khan menilai hubungan kedua negara bersifat saling melengkapi. Ia sepakat memperluas kerja sama di sektor kesehatan yang tengah tumbuh signifikan di Pakistan, termasuk sektor teknologi industri yang berkembang pesat. Pakistan juga berharap peningkatan akses produk pertanian ke pasar Indonesia.
“Hubungan bilateral Pakistan dan Indonesia diharapkan makin kuat, lebih terstruktur, serta saling menguntungkan. Tahun ini Pakistan berencana menyelenggarakan single showcase exhibition di Indonesia dengan membawa eksportir produk-produk strategis Pakistan, dan kami berharap dukungan Indonesia untuk kesuksesan program tersebut,” ujar Jam Kamal Khan.
BACA JUGA: Dari Sawit ke Investasi Hilir, Indonesia Tawarkan Kemitraan Lebih Luas dengan Pakistan
Dalam pertemuan itu, Wamendag Roro didampingi Duta Besar RI untuk Islamabad Chandra W. Sukotjo, Direktur Perundingan Antar-Kawasan dan Organisasi Internasional Kemendag Natan Kambuno, serta Konsul Jenderal RI di Karachi Mudzakir.
Sekilas Perdagangan Indonesia–Pakistan
Kementerian Perdagangan mencatat Pakistan merupakan tujuan ekspor terbesar ke-14 dan sumber impor terbesar ke-36 bagi Indonesia pada 2024. Pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD 3,6 miliar, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar USD 3,4 miliar dan impor USD 136 juta. Dengan demikian, Indonesia membukukan surplus perdagangan sekitar USD 3,3 miliar.
Ekspor utama Indonesia ke Pakistan meliputi minyak sawit dan turunannya, serat stapel artifisial, bagian kendaraan bermotor, briket batu bara, serta serat stapel sintetis. Adapun impor Indonesia dari Pakistan antara lain tembakau mentah, buah jeruk, beras, teleskop, dan minyak bumi olahan. (T2)
