InfoSAWIT, LAMANDAU — Komitmen sawit berkelanjutan tak selalu lahir dari korporasi besar. Dari tingkat desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berkah Mulya Jaya (BMJ) justru menunjukkan praktik nyata penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) oleh petani sawit swadaya.
Sepanjang 2025, BUMDes BMJ yang telah mengantongi sertifikasi RSPO berhasil memperoleh kredit sebesar Rp 1,2 miliar melalui skema book and claim. Nilai tersebut meningkat signifikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp 762 juta. Kenaikan ini memberi ruang lebih luas bagi BUMDes untuk melakukan berbagai inovasi dan terobosan program yang berdampak langsung bagi keberlanjutan usaha sawit rakyat.
Direktur BUMDes Berkah Mulya Jaya, Choirul Fuadi, menegaskan bahwa dana kredit RSPO menjadi tulang punggung pembiayaan berbagai program lingkungan dan konservasi yang dijalankan koperasi desa tersebut. Dana tersebut disalurkan secara khusus untuk mendukung penerapan prinsip ESG oleh petani sawit swadaya anggota BUMDes.
Menjelang akhir 2025, BUMDes BMJ merealisasikan salah satu program unggulannya dengan menyalurkan dana Rp 21 juta untuk pengelolaan hutan desa serta program adopsi orangutan di Pulau Salat, Kalimantan Tengah. Program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian keanekaragaman hayati di sekitar wilayah perkebunan sawit.
“Pengalokasian dana ini adalah wujud komitmen kami dalam menjaga lingkungan hidup di sekitar kebun sawit anggota,” ujar Choirul dilansir InfoSAWIT dari Fortasbi, Selasa (13/1/2026). Menurutnya, keberlanjutan tidak berhenti pada sertifikasi semata, tetapi harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata yang dirasakan manfaatnya oleh alam dan masyarakat.
Ia menyebutkan, kredit RSPO kini menjadi andalan BUMDes untuk menghadirkan berbagai program berdampak sekaligus meningkatkan layanan bagi anggota, yang mayoritas merupakan petani sawit swadaya. Choirul pun berharap semakin banyak buyer yang melirik dan mendukung kredit RSPO dari petani kecil sebagai bagian dari komitmen bersama membangun sawit berkelanjutan.
BACA JUGA: Dorong CEPA 2027, Indonesia–Pakistan Percepat Negosiasi Dagang dan Perkuat Pasar Sawit
“Petani masih membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Kami tidak bisa berjalan sendiri dalam menerapkan prinsip dan kriteria keberlanjutan,” ujarnya.
Dengan dukungan berkelanjutan, Choirul optimistis petani sawit swadaya dapat “naik kelas”, baik dari sisi kapasitas sumber daya manusia, kepedulian terhadap lingkungan, maupun komitmen sosial di sektor perkebunan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini konsisten mendukung perjuangan petani sawit rakyat.
Saat ini, BUMDes Berkah Mulya Jaya menaungi 128 petani sawit bersertifikat dengan total luasan lahan mencapai 556,7 hektare. Para petani tersebut tergabung dalam lima kelompok yang berada di Desa Mekar Mulya, Kecamatan Sematu Jaya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Dari desa inilah, praktik sawit berkelanjutan berbasis komunitas terus tumbuh dan memberi harapan baru bagi masa depan perkebunan rakyat. (T2)
