InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Malaysia diperkirakan masih berada di bawah tekanan hingga produksi benar-benar melandai. Kinerja produksi yang lebih tinggi dari perkiraan, khususnya di Malaysia, telah memicu penumpukan stok dan menahan pergerakan harga.
Menurut Reuters, sebagaimana dipublikasikan secara daring oleh InfoSAWIT, analis industri Dorab Mistry menyebut tekanan pada pasar berjangka CPO masih berlanjut seiring keluarnya investor dana (fund investors) dari pasar.
“Kontrak berjangka sawit di Bursa Malaysia sedang tertekan. Investor dana telah keluar dari pasar. Kelemahan ini kemungkinan bertahan sampai produksi benar-benar menurun,” ujar Mistry dalam sebuah konferensi industri di Karachi, Pakistan, Sabtu lalu.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode I-Januari 2026 Naik Rp 13,37 per Kg
Harga kontrak acuan CPO untuk pengiriman Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup pada level 4.043 ringgit per ton pada Jumat. Harga tersebut sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari enam bulan pada Desember lalu.
Pada November, Mistry sempat memproyeksikan harga berjangka sawit dapat melonjak hingga 5.500 ringgit per ton pada periode Januari–Maret. Proyeksi optimistis tersebut didasarkan pada kemungkinan Indonesia memperluas kebijakan penyitaan lahan sawit serta mendorong penerapan campuran biodiesel 50% (B50).
Namun, pandangan tersebut kini berubah. Produksi minyak sawit tercatat meningkat sekitar 1 juta ton di atas perkiraan awal, sehingga mendorong kenaikan stok. Di sisi lain, permintaan biofuel dinilai mengecewakan, terutama dari Amerika Serikat.
BACA JUGA: Diplomasi Sawit Perkuat Kemitraan RI–Pakistan di Usia 75 Tahun Hubungan Bilateral
Stok minyak sawit Malaysia, sebagai produsen terbesar kedua dunia, kini diperkirakan menembus 3 juta ton, naik signifikan dari proyeksi sebelumnya sekitar 2 juta ton. Lonjakan ini terjadi seiring produksi yang tetap kuat sejak Oktober lalu.
Meski koreksi harga membuat minyak sawit kembali kompetitif dibandingkan minyak nabati lain seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari, Mistry menilai permintaan global masih belum menunjukkan pemulihan berarti.
Ke depan, produksi sawit Malaysia diperkirakan menurun setelah melampaui 20 juta ton untuk pertama kalinya pada 2025. Sementara itu, kebijakan penyitaan lahan di Indonesia berpotensi menekan produksi pada paruh kedua 2026. (T2)
