Biaya Senyap Sebuah Fatamorgana
Biaya terbesar dari fatamorgana bukanlah kekecewaan, melainkan penundaan. Selama oasis tampak dapat diraih, orang terus bergerak ke arahnya. Mereka tidak mencari rute lain. Tidak mempertanyakan peta. Waktu, dana, dan kepercayaan diinvestasikan ke arah yang mungkin tak pernah memberi air.
Dalam industri minyak sawit, penundaan ini berakibat nyata. Hutan terus menyusut. Konflik membeku karena masyarakat menunggu solusi yang tak kunjung datang. Petani kecil diminta memenuhi standar tanpa jaminan keamanan yang memungkinkan mereka melakukannya. Sementara itu, narasi keberlanjutan terus dipoles, diulang, dan diekspor.
Pertanyaan yang Tak Nyaman
Ini bukan ajakan untuk meninggalkan keberlanjutan. Itu langkah gegabah. Namun percakapan tentangnya perlu menjadi lebih dewasa. Keberlanjutan tidak boleh menjadi pengganti tata kelola. Ia tidak boleh direduksi menjadi label yang menyerap kontradiksi. Ia tidak boleh terus berpura-pura bahwa solusi teknis semata mampu menyelesaikan realitas politik.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Selasa (3/2), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Melemah
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah minyak sawit dapat berkelanjutan secara teori. Pertanyaan yang lebih jujur—dan lebih tidak nyaman—adalah: apakah minyak sawit berkelanjutan, sebagaimana dipraktikkan hari ini, benar-benar tujuan yang dapat dicapai? Ataukah ia fatamorgana—meyakinkan dari kejauhan, menenangkan untuk diyakini, tetapi secara struktural tak pernah mampu memuaskan dahaga yang dijanjikannya?
Jika jawabannya yang terakhir, maka tugas kita bukan memoles fatamorgana itu, melainkan mengubah medan yang menciptakannya. (*)
Penulis: Dr. M. Windrawan Inantha / Doctor in Sustainable Development Management/ Strategic Advisor for Sustainable Development/ CECT Sustainability, Universitas Trisakti.
Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis dan tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.
