Industri Sawit Malaysia di Titik Kritis, Pertumbuhan Melambat dan Daya Saing Tertekan

oleh -11.717 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ Direktur Utama Grup SD Guthrie Bhd, Mohd Haris Mohd Arshad.

InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Industri minyak sawit Malaysia disebut tengah berada di titik “krisis” seiring perlambatan pertumbuhan, stagnasi produktivitas, dan penurunan profitabilitas yang kian terasa. Peringatan tersebut disampaikan Direktur Utama Grup SD Guthrie Bhd, Mohd Haris Mohd Arshad, dalam forum industri pada Selasa.

Berbicara dalam diskusi panel di Palm & Lauric Oils Price Outlook Conference 2026 (POC) ke-37, Mohd Haris menilai tekanan yang meningkat berisiko menggerus keunggulan minyak sawit sebagai minyak nabati dengan biaya produksi terendah di dunia.

Menurutnya, kemerosotan sektor sawit Malaysia tidak lepas dari struktur kebun yang menua serta persaingan yang semakin ketat dari minyak nabati lain, terutama minyak kedelai. Dalam beberapa tahun terakhir, laju pertumbuhan produksi minyak kedelai global bahkan tercatat enam kali lebih cepat dibandingkan minyak sawit.

BACA JUGA: Cegah Alih Fungsi Sawah ke Sawit, Pemkab Mukomuko Genjot Perbaikan Irigasi

“Industri ini seperti terjepit di antara batu dan tembok yang sangat keras,” ujar Mohd Haris, dilansir InfoSAWIT dari The Edge Malaysia, Rabu (11/2/2026), menggambarkan posisi sawit Malaysia yang terhimpit oleh kenaikan biaya domestik dan kompetisi global yang kian agresif.

Di dalam negeri, tingkat peremajaan (replanting) kebun sawit rata-rata masih berada di kisaran 2% per tahun. Angka ini dinilai jauh dari ideal, karena banyak tanaman sawit dibiarkan berproduksi melewati usia optimalnya. Untuk menjaga keberlanjutan jangka panjang, laju replanting seharusnya mendekati 5% per tahun.

Selain persoalan umur tanaman, Mohd Haris juga menyoroti ketergantungan tinggi terhadap tenaga kerja asing sebagai risiko struktural yang belum teratasi. Untuk meredam tekanan tersebut, ia mendorong percepatan mekanisasi di sektor perkebunan.

BACA JUGA: Sertifikasi MSPO Tembus 90%, Malaysia Percepat Sistem Ketertelusuran Hadapi EUDR

Dengan mengotomatisasi pekerjaan non-panen—seperti pemeliharaan kebun, pemupukan, dan pengendalian hama—perusahaan dinilai dapat mengelola area yang lebih luas dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit. Langkah ini diyakini mampu menekan biaya tenaga kerja sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Upaya tersebut, menurutnya, perlu dilengkapi dengan penggunaan bahan tanam unggul yang cepat berproduksi agar hasil kebun dapat meningkat secara menyeluruh.

Dalam sesi diskusi yang sama, para panelis juga menyinggung dampak perjanjian European Union–Indonesia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) terhadap daya saing regional. Sejumlah laporan menyebutkan perjanjian ini berpotensi memberi keuntungan harga sekitar 9%–12,8% bagi minyak sawit olahan Indonesia dibandingkan Malaysia.

Namun Mohd Haris menilai perjanjian dagang hanyalah salah satu dari banyak faktor penentu daya saing. Perusahaan dengan operasi lintas negara, seperti SD Guthrie yang beroperasi di Malaysia, Indonesia, dan Papua Nugini, memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan pengapalan berdasarkan tujuan pasar dan pengaturan perdagangan yang berlaku.

BACA JUGA: Apical Dorong Ekonomi Produktif Berbasis Limbah Non-B3, Rumah FABA Kreasi Muda Diresmikan di Dumai

Sikap lebih berhati-hati disampaikan CEO FGV Holdings Group, Datuk Fakhrunniam Othman. Ia memilih pendekatan “menunggu dan melihat” terhadap dampak CEPA, seraya menekankan bahwa keputusan pembeli tidak semata ditentukan oleh harga.

“Relasi bisnis, kualitas produk, ketentuan perdagangan, dan keandalan pasokan tetap menjadi pertimbangan utama. Banyak faktor lain yang masih bisa meyakinkan rantai pasok dan permintaan,” ujarnya.

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com