Kondisi ini menegaskan bahwa permintaan global terhadap sawit Indonesia tetap kuat, bahkan ketika harga mengalami koreksi.
Pasar Global Dinamis, Sawit Tetap Kompetitif
Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar sebesar US$ 3,11 miliar, diikuti India dan Filipina. Sementara defisit terdalam masih berasal dari Tiongkok.
Negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia tetap didominasi Tiongkok, Amerika Serikat, dan India, dengan kontribusi hampir 44 persen dari total ekspor.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 3-9 April 2026 Naik Rp232,88 per Kg
Namun pertumbuhan ekspor justru lebih tinggi di pasar nontradisional. Uni Emirat Arab mencatat lonjakan signifikan, diikuti Spanyol dan Mesir. Bahkan kawasan Asia Tengah mencatat pertumbuhan tertinggi hingga lebih dari 140 persen.
Di tengah dinamika tersebut, komoditas sawit tetap menjadi salah satu pilar utama ekspor Indonesia—fleksibel dalam menghadapi fluktuasi harga, sekaligus kuat dalam menjaga volume perdagangan.
Dengan tren ini, sektor sawit bersama industri pengolahan diperkirakan tetap menjadi penopang utama kinerja ekspor nasional dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. (T2)
