InfoSAWIT, JAKARTA – Kinerja perdagangan Indonesia kembali menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi global, dengan neraca perdagangan Februari 2026 mencatatkan surplus yang terus berlanjut.
Dilansir InfoSAWIT dari keterangan resmi Kementerian Perdagangan, pada Senin, 6 April 2026, neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 membukukan surplus sebesar US$ 1,27 miliar, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 0,95 miliar.
Surplus ini terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatatkan surplus US$ 2,19 miliar, meskipun sektor migas masih mengalami defisit sebesar US$ 0,92 miliar.
BACA JUGA: Harga Sawit Berpotensi Menguat di Tengah Gejolak Timur Tengah, Ini Proyeksi Terbaru Analis
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, tren ini memperpanjang catatan positif Indonesia menjadi 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
“Capaian surplus selama 70 bulan berturut-turut mencerminkan fundamental perdagangan Indonesia yang tetap kuat,” ujarnya.
Secara kumulatif, periode Januari–Februari 2026 mencatat surplus sebesar US$ 2,23 miliar. Kinerja ini didorong oleh surplus nonmigas sebesar US$ 5,42 miliar yang mampu menutup defisit migas US$ 3,19 miliar.
BACA JUGA: Kemenhut Tertibkan 102 Hektare Sawit Ilegal di Kawasan Konservasi Sumatera Utara
Sawit dan Industri Pengolahan Jadi Motor Ekspor
Dari sisi ekspor, kinerja Indonesia tetap stabil dengan nilai ekspor Februari 2026 mencapai US$ 22,17 miliar. Angka ini tumbuh tipis secara bulanan dan meningkat 1,01 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 1,30 persen, di tengah penurunan ekspor migas sebesar 4,25 persen.
Secara kumulatif Januari–Februari 2026, total ekspor mencapai US$ 44,32 miliar atau tumbuh 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas mencapai US$ 42,35 miliar.
BACA JUGA: Bangkit Sekali Lagi: Keteguhan Diman Ponidjan dalam Round One More Round
Struktur ekspor Indonesia masih didominasi industri pengolahan dengan kontribusi mencapai 83,61 persen, menunjukkan semakin kuatnya peran hilirisasi, termasuk pada komoditas sawit.
Komoditas strategis seperti lemak dan minyak hewani atau nabati—yang didominasi produk sawit—mencatat pertumbuhan ekspor sebesar 28,79 persen.
Menariknya, kenaikan ini terjadi di tengah penurunan harga minyak sawit global sebesar 4,27 persen. Namun, volume ekspor justru melonjak signifikan hingga 34,46 persen.
