InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan akan menguat dalam jangka pendek seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut memengaruhi pasar energi global.
Dilansir InfoSAWIT dari New Straits Times, pada Senin (6/4/2026), analis dari Hong Leong Investment Bank (HLIB Research) menilai konflik Iran telah menciptakan tekanan multi-dimensi bagi sektor perkebunan, mulai dari energi, pupuk, hingga logistik. Kondisi ini pada akhirnya menopang harga CPO dalam waktu dekat.
HLIB Research pun menaikkan proyeksi rata-rata harga CPO tahun 2026 menjadi RM4.350 per ton, atau meningkat RM150 dibandingkan estimasi sebelumnya, seiring indikasi pasokan yang semakin ketat.
BACA JUGA: Bangkit Sekali Lagi: Keteguhan Diman Ponidjan dalam Round One More Round
Harga CPO diperkirakan mencapai puncaknya pada kisaran RM4.500 hingga RM4.600 per ton pada kuartal II-2026, sebelum mengalami normalisasi pada paruh kedua tahun tersebut.
“Elevasi harga minyak mentah akan memperkuat keekonomian biodiesel, sehingga meningkatkan permintaan minyak nabati dan memperkuat peran CPO sebagai proxy pasar energi,” ungkap analis dalam laporan tersebut.
Namun demikian, HLIB Research mengingatkan bahwa dalam jangka menengah, penyesuaian pasokan dari minyak nabati pesaing seperti kedelai berpotensi membatasi kenaikan harga lebih lanjut.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 3-9 April 2026 Naik Rp232,88 per Kg
Selain itu, kenaikan biaya pupuk juga diperkirakan mendorong peralihan komoditas oleh petani, yang pada akhirnya dapat membatasi pertumbuhan jangka panjang sektor sawit.
Gangguan logistik akibat konflik juga memberikan tambahan premi sementara terhadap harga CPO, meski dinilai bersifat sementara kecuali terjadi gangguan jalur perdagangan yang berkepanjangan.
Di sisi fundamental, sektor sawit masih didukung sejumlah faktor positif, seperti kebijakan Renewable Fuel Standard (RFS) Amerika Serikat untuk periode 2026–2027, potensi dampak El Nino terhadap produksi, serta rencana implementasi mandatori biodiesel B50 di Indonesia yang diperkirakan dapat meningkatkan konsumsi CPO hingga 3 juta ton per tahun.
HLIB Research mempertahankan rekomendasi “Overweight” untuk sektor perkebunan, dengan pilihan utama pada perusahaan hulu yang memiliki efisiensi biaya pupuk dan margin kuat.
Sementara itu, RHB Research juga menyampaikan pandangan positif terhadap sektor ini. Mereka mencatat bahwa harga saham perusahaan perkebunan saat ini masih mencerminkan harga CPO di bawah RM4.400 per ton, sehingga membuka peluang kenaikan lebih lanjut.
RHB menyebutkan bahwa lonjakan harga CPO sebesar 19% sejak awal konflik AS-Iran didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dan peningkatan mandatori biodiesel, baik di Indonesia maupun secara global.
