Dalam konteks global, Kuntoro Boga Andri mengungkapkan bahwa permintaan terhadap sawit Indonesia masih cukup tinggi, termasuk dari negara-negara seperti India dan beberapa negara lainnya. Bahkan, komunikasi dengan negara mitra terus dilakukan untuk meredam kampanye negatif terhadap sawit.
“Beberapa negara justru sangat membutuhkan sawit kita. Ini menjadi peluang sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan dan citra positif sawit Indonesia,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penerapan prinsip keberlanjutan melalui standar nasional seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), yang mengatur aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam industri sawit.
BACA JUGA: Jejak Kartini di Perkebunan Sawit, Perempuan pun Jadi Pusat Perubahan
Menurutnya, keberlanjutan tidak hanya terkait sertifikasi, tetapi juga mencakup isu strategis seperti emisi gas rumah kaca, keanekaragaman hayati, hingga pengelolaan limbah.
“Ke depan, kita harus memastikan bahwa pengelolaan sawit tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” pungkasnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis industri sawit Indonesia akan semakin kuat, berdaya saing, serta mampu menjadi pilar utama dalam ketahanan energi dan ekonomi nasional. (T2)
