Apabila sektor sawit tidak mampu memberikan prospek usaha yang menjanjikan, maka semakin sedikit anak muda yang tertarik untuk terlibat di dalamnya.
“Kalau sektor ini tidak mampu meningkatkan kesejahteraan petani, tentu akan sulit menarik generasi muda untuk melanjutkan usaha perkebunan sawit,” katanya.
Rukaiyah menilai, kisah sukses sejumlah koperasi petani yang berhasil meningkatkan kesejahteraan anggotanya perlu lebih banyak disebarluaskan sebagai inspirasi bagi petani lainnya.
BACA JUGA: RSPO Telah Salurkan Rp416 Miliar untuk Petani Sawit
Ia mencontohkan beberapa kelompok tani di berbagai daerah yang mampu memanfaatkan program sertifikasi untuk memperkuat kelembagaan, memperbaiki tata kelola kebun, hingga membuka akses terhadap berbagai fasilitas pendukung usaha.
“Cerita-cerita keberhasilan seperti ini penting untuk disampaikan. Petani perlu melihat bukti nyata bahwa perubahan menuju praktik yang lebih baik memang dapat memberikan manfaat,” jelasnya.
Melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas, serta pendampingan yang berkelanjutan, FORTASBI berharap semakin banyak petani sawit swadaya yang mampu meningkatkan daya saing sekaligus menjadi pelaku utama dalam mewujudkan industri sawit Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 12-18 Juni 2026 Naik Rp265,9/Kg
“Yang terpenting adalah bagaimana petani bisa terus belajar, tumbuh bersama, dan memperoleh manfaat nyata dari setiap upaya perbaikan yang dilakukan,” pungkas Rukaiyah. (T2)
