InfoSAWIT, JAKARTA – Integrasi sawit-sapi menjanjikan efisiensi dan keberlanjutan. Tapi tanpa logistik, kepemimpinan, dan disiplin manajemen, ia berhenti sebagai konsep—belum menjadi sistem yang bekerja.
Di tengah perdebatan panjang tentang sawit, daging, dan perubahan iklim, justru diajak kembali ke satu pertanyaan sederhana, bagaimana memproduksi pangan tanpa merusak fondasinya sendiri?
Mohd Azid Kabul, General Manager Sawit Kinabalu Farm Product Sdn Bhd (subsidiary of Sawit Kinabalu Group), mengutarakan persoalannya bukan lagi pada apakah daging sapi akan tetap dikonsumsi. Jawabannya sudah jelas—ya. Yang menjadi soal adalah bagaimana ia diproduksi.
Saat berbicara pada 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference, dihadiri InfoSAWIT, awal April 2026, Mohd Azid mencatat bahwa permintaan daging sapi global terus meningkat, terutama di negara berkembang seperti Indonesia dan Malaysia. Peningkatan populasi, daya beli, serta kesadaran terkait asupan protein mendorong konsumsi daging terus naik, meski kerap dibayangi isu kesehatan dan lingkungan.
Di Asia Tenggara, konsumsi daging sapi memang masih relatif rendah dibandingkan negara seperti Argentina atau Amerika Serikat. Namun justru di situlah paradoksnya, ruang pertumbuhan masih terbuka lebar. “Permintaan tetap naik, tidak peduli berbagai persepsi yang berkembang,” ujarnya.
Namun kenaikan permintaan ini membawa konsekuensi yang tidak ringan. Sektor pangan global menyumbang sekitar seperempat emisi gas rumah kaca, dengan porsi signifikan berasal dari peternakan. Jika pola produksi konvensional terus dipertahankan, tekanan terhadap lingkungan akan semakin besar.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 19-25 Juni 2026 Cenderung Stagnan
Di sinilah Azid melihat perlunya “titik manis”—sweet spot—antara produktivitas dan keberlanjutan.
Bagi dia, integrasi sapi dan sawit (ICOP/SISKA) adalah salah satu kandidat paling realistis untuk mencapai keseimbangan tersebut. Bukan karena konsepnya baru, tetapi justru karena ia mengoptimalkan apa yang sudah ada. (T2)
