“Penyakit Ganoderma adalah tantangan nyata yang dihadapi banyak kebun di Indonesia. Karena itu, program seleksi toleransi adalah bagian yang tak terpisahkan dari strategi benih kami,” catat pihak perusahaan.
Kinerja Topaz GT: Tinggi, Tapi Tetap Rasional
Dari sisi potensi, Topaz GT membawa paket yang menarik.
Pada tahun panen pertama dan kedua, produksi TBS mencapai 27,7 ton/ha/tahun, dengan jumlah tandan 30,3 tandan per pohon per tahun, dan bobot rata-rata tandan 6,7 kg.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau 1-7 Juli 2026 Naik Rp. 55,6 per Kg
Pada tahun ketiga hingga keenam, angka produksi meningkat menjadi 34,5 ton/ha/tahun, dengan jumlah tandan turun menjadi 18,1 tandan per pohon per tahun, tetapi bobot tandan melonjak menjadi 14,1 kg. Pola ini sering dibaca sebagai indikasi stabilitas produksi: tandan tidak sekadar banyak, tetapi lebih berat.
Dengan Oil to Bunch 31,2%, OER 26,7%, dan produksi CPO 9,2 ton/ha/tahun, Topaz GT menawarkan produktivitas yang tinggi sekaligus narasi ketahanan. Bahkan karakter pertumbuhan juga dicatat: kenaikan tinggi 47,5 cm per tahun, radius kanopi 6,5 meter.
Dalam praktik lapangan, pertumbuhan tinggi pohon bukan sekadar estetika. Ia menyangkut biaya panen, keamanan pekerja, serta kebutuhan alat.
BACA JUGA: Topaz GT, Benih Sawit Unggul Toleran Ganoderma dan Hasilkan 40 Ton TBS per Hektare
“Bagi kami, benih unggul harus menjawab kebutuhan operasional kebun. Kalau produktif tetapi terlalu menyulitkan dipanen atau terlalu rentan penyakit, kebun akan tetap menanggung biaya besar,” demikian catat pihak perusahaan. (T2)
Untuk lebih lengkap bisa klik à Bibit Sawit Topaz
