InfoSAWIT, MUARO JAMBI – Masa peremajaan tanaman atau replanting menjadi salah satu tantangan besar bagi petani sawit swadaya karena dapat memengaruhi produktivitas kebun sekaligus pendapatan rumah tangga. Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian Fakultas Pertanian (FAPERTA) Universitas Jambi (UNJA) memberikan pendampingan kepada petani sawit swadaya di Kabupaten Muaro Jambi.
Kegiatan bertajuk “Model Penguatan Agribisnis Sawit Swadaya Melalui Adopsi FEROTRAP untuk Ketahanan dan Keberlanjutan Ekonomi Petani pada Masa Replanting” itu digelar di Desa Bukit Baling, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, Senin.
Program pengabdian tersebut diarahkan untuk memperkuat kesiapan petani dalam menghadapi masa replanting melalui pengenalan inovasi yang dapat mendukung pengelolaan perkebunan secara lebih efektif. Adopsi FEROTRAP menjadi salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.
BACA JUGA: Indonesia Dorong Negara-Negara Selatan Naik Kelas Lewat Hilirisasi Mineral Kritis
Ketua Tim Pengabdian, Karina Rahmah, mengatakan masa replanting membutuhkan persiapan yang matang karena petani harus menghadapi periode ketika tanaman belum menghasilkan sehingga berpotensi mengurangi sumber pendapatan.
“Kegiatan ini kami laksanakan untuk mendampingi petani sawit swadaya agar memiliki pemahaman dan kesiapan dalam menghadapi masa replanting. Melalui pengenalan dan adopsi FEROTRAP, kami berharap petani dapat memperoleh alternatif inovasi yang mendukung pengelolaan perkebunan sekaligus memperkuat keberlanjutan ekonomi mereka,” ujarnya, dilansir InfoSAWIT dari UNJA, Senin (17/8/2026).
Menurut Karina, penguatan kapasitas petani tidak cukup hanya melalui aspek teknis budidaya. Petani juga perlu memiliki strategi untuk mempertahankan keberlangsungan usaha dan sumber pendapatan selama tanaman sawit menjalani masa peremajaan.
BACA JUGA: Kasus Dugaan Korupsi Ekspor CPO Berkedok POME, 11 Terdakwa Segera Jalani Sidang Perdana
Dalam kegiatan tersebut, tim memberikan materi mengenai penguatan agribisnis sawit swadaya sekaligus membuka ruang diskusi dengan petani mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi di lapangan.
Salah satu petani peserta, Poniran, menyambut positif pendampingan yang dilakukan UNJA. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai inovasi yang dapat diterapkan dalam pengelolaan kebun sawit.
“Kami mendapatkan pengetahuan baru mengenai pengelolaan kebun dan penggunaan FEROTRAP. Pendampingan seperti ini sangat membantu kami sebagai petani, terutama dalam menghadapi masa replanting,” katanya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 14–20 Agustus 2026 Turun Rp32,15 per Kg
Selain penyampaian materi, kegiatan juga diisi dengan pengenalan penerapan FEROTRAP di lingkungan perkebunan. Para petani turut berdiskusi mengenai kondisi kebun, tantangan ekonomi selama replanting, serta peluang penerapan inovasi untuk mendukung keberlanjutan usaha.
UNJA berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat agribisnis sawit swadaya di Muaro Jambi. Pendampingan dan adopsi inovasi dinilai penting agar petani tidak hanya mampu menghadapi masa peremajaan tanaman, tetapi juga tetap menjaga keberlanjutan ekonomi dan produktivitas perkebunan dalam jangka panjang. (T2)
