Kinerja positif berlanjut ketika tanaman memasuki fase Tanaman Menghasilkan pertama (TM 1). Dengan target produksi lebih dari 18 ton per hektare, kebun ini berhasil mencatat realisasi 24,68 ton per hektare, sekitar sepertiga lebih tinggi dibandingkan target yang ditetapkan.
Capaian tersebut dinilai semakin signifikan mengingat sebagian besar areal perkebunan berada di atas lahan marginal. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi peremajaan yang terencana, penerapan praktik agronomi secara konsisten, serta pengelolaan berbasis konservasi mampu menghasilkan produktivitas sawit yang kompetitif.
Selain meningkatkan produksi, program peremajaan juga memberikan manfaat lain berupa meningkatnya keselamatan kerja karena tanaman yang lebih pendek lebih mudah dipanen. Di sisi lain, penerapan prinsip konservasi tanah dan air turut menjaga keberlanjutan sumber daya lahan untuk siklus tanam berikutnya.
BACA JUGA: Pekebun Sawit Ketapang Salurkan Dana RSPO untuk Pendidikan hingga Konservasi Orangutan
Model pengelolaan ini juga memperkuat kemitraan dengan masyarakat melalui keterlibatan koperasi plasma dalam program peremajaan. Dengan demikian, manfaat peningkatan produktivitas tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga mengalir kepada pekebun rakyat di sekitar kawasan perkebunan.
Keberhasilan Sungai Bahaur Estate menjadi contoh bahwa keterbatasan kondisi lahan bukan penghalang untuk mencapai produktivitas tinggi. Dengan strategi budidaya yang tepat, komitmen terhadap konservasi, serta pengelolaan yang konsisten, lahan marginal dapat diubah menjadi aset produktif yang mendukung keberlanjutan industri kelapa sawit nasional. (T2)
