InfoSAWIT, JAKARTA – Adanya dugaan pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang di integrasikan dengan ternak sapi bakal menimbulkan dampak negatif, yakni adanya penyebaran penyakit di perkebunan kelapa sawit yang diakibatkan dari feses sapi atau penyakit yang tersebar dari injakan kaki sapi.
Namun dugaan tersebut dianggap tidak berdasar karena perlu pembuktian secara ilmiah lebih lanjut, diungkapkan Peneliti Ahli Utama dari Puslitbang Perkebunan, Badan Litbang Pertanian, Prof. Decianto Sutopo, bila sapi membawa ganoderma melalui gigitan dan badan sapi, ini info menyesatkan.
Sebab merujuk hasil penelitian yang telah dilakukan justru integrasi sawit sapi bakal meningkatkan produktvitas sawit, dan sapi bukan faktor utama percepatan penyebaran ganoderma. “Sentuhan akar tanaman yang terkena jamur ganoderma yang menjadi faktor utama penyebarannya,” catatnya pada Whatsapp group SISKA Network.
BACA JUGA: Menepis Dugaan Dampak Negatif Integrasi Sawit-sapi
Perlu dipahami bahwa pengelolaan integrasi sawit – sapi memang tidak bisa dilakukan tatkala kebun sawit masih masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), atau tanaman masih muda dengan tinggi pohon yang masih rendah sehingga daun tanaman bisa terjangkau oleh sapi dan ini tidak dianjurkan untuk pola integrasi sawit-sapi. “Bila sapi dipelihara dan dilepas di perkebunan kelapa sawit yang masih umur remaja (TM 1), bisa dipastikan menjadi hama,” ungkapnya.
Lebih lanjut kata Prof. Decianto, pengendalian utama ganoderma seharusnya dengan menghadirkan secara luas mikroorganisma antagonis pada semua lahan sawit dan melakukan eradikasi (tindakan pemusnahan terhadap tanaman ) yang terinveksi dan sumber di lapangan. “Sebab penyembuhan tanaman yang terinveksi gaonderma nyaris mustahil dilakukan,” kata dia.
Sementara diungkapkan Ketua Sentra Peternakan Rakyat (SPR) Berkat Bersama, YB. Zainanto Hari Widodo, pengelolaan sapi di kebun sawit tidak berdampak ke kebun sawit, dan terkait masalah yang diisukan menjadi hama tidak pernah terjadi. Tentu saja pengelolaan integrasi sawit-sapi mesti dilakukan dengan baik dan benar sesuai anjuran.
Saat ini Kata Zainanto, khusus di Pangkalan Lada, Kalimantan Tengah terdapat petani mencapai sekitar 450 orang dengan populasi ternak hampir 2.000 ekor – belum lagi di kecamatan lainnya- rata-rata pengelolaan ternak sapi itu dilakukan di kebun kelapa sawit.
Demikian pula diungkapkan, Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), Darmono Taniwiryono, pihaknya berkeyakinan bahwa dengan adanya sapi di perkebunan kelapa sawit, atau di areal perkebunan kelapa sawit, yang khususnya dikandangkan justru memberikan manfaat bagi perkebunan kelapa sawit.
Bahkan kata Darmono dalam keterangannya kepada InfoSAWIT, dengan adanya integrasi sawit-sapi telah memberikan keuntungan tambahan dengan adanya pupuk kandang guna keperluan aplikasi pupuk organik di areal perkebunan kelapa sawit. “Terlebih lagi bila pupuknya bisa menjadi cendawan antagonis bagi ganoderma,” tandas Darmono. (T2)
