InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit di Bursa Berjangka Malaysia menguat di sesi kedua berturut-turut pada Selasa (1/11/2022), lantaran muncul kekhawatiran atas pasokan minyak nabati global setelah Rusia menangguhkan perjanjian ekspor melalui Laut Hitam.
Dilansir Reuters, kontrak minyak sawit acuan FCPOc3 untuk pengiriman Januari 2023 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM 183, atau terdapat kenaikan sekitar 4,51%, menjadi RM 4.237 (US$ 895.77) per ton pada awal perdagangan.
Dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, pemerintah Indonesia telah sepatak guna memperpanjang penghentian pungutan ekspor hingga akhir 2022. Diungkapkan Menko Arilangga, tarif pungutan ekspor nol diperpanjang sampai referensi harga lebih besar atau sama dengan US$ 800/MT. “Lantaran saat ini harganya masih sekitar US$ 713/MT, jadi tarif PE US$0/MT berlaku sampai bulan Desember. Tetapi begitu harga naik ke US$ 800/MT, tarif PE US$0/MT tersebut tidak berlaku,” katanya.
Sementara Gandum mengalir keluar dari Ukraina dengan rekor tertinggi Senin (31/101/2022) di bawah inisiatif yang dipimpin oleh PBB yang bertujuan untuk mengurangi kekurangan pangan global meskipun Rusia memperingatkan itu berisiko untuk melanjutkan setelah menarik diri dari pakta.
Lantas kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian DBYcv1 naik 1,8%, sementara kontrak minyak sawit DCPcv1 melonjak 4,4%. Harga kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 naik 0,6%.
Tercatat pengiriman minyak bunga matahari dari wilayah Laut Hitam kembali terhambat oleh konflik Rusia-Ukraina dan dapat lebih lanjut terganggu dengan adanya upaya Rusiamembatalkan perjanjian perdagang melalui Laut Hitam. (T2)
