Dengan pemberian nama ini, kakeknya mempunyai harapan, Derom nantinya akan punya banyak peranan, terutama dalam menenangkan situasi dalam keluarga dan masyarakat. Kelak harapan sang kakek terkabul, Derom mampu menyelesaikan permasalahan sawit, bidang yang menjadi jalan hidupnya, melalui jalur diplomasi dan beberapa perselisihan dalam organisasi PII (Persatuan Insinyur Indonesia) dan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) pun dapat didamaikan.
Derom merupakan suku Karo. Karo adalah sub-etnis minoritas di dalam masyarakat Batak di Sumatra Utara.
Suku Karo menganut sistem keturunan patrilineal, yaitu mengikuti garis keturunan dari pihak ayah. Anak laki-laki dan perempuan dalam Suku Karo diberi marga yang sama dengan marga sang ayah, maka nama lengkap Derom adalah Derom Bangun.
BACA JUGA: APTS-IPI Luncurkan Sawit Oke, Bentuk Kampanye Positif Sawit
Ayah dan ibunya lebih banyak tinggal di Berastagi, Oleh karenanya walaupun Derom dilahirkan di Desa Payung, Derom lebih banyak melewati masa kecil di Berastagi. Pada tahun 1947, terjadi agresi militer Belanda pertama. Untuk alasan keamanan, Ayahnya menitipkan Derom ke rumah kakeknya di Desa Payung, Desa kelahirannya dan untuk sementara Derom bersekolah disana.
Derom sudah sempat bersekolah beberapa minggu di Desa Payung. Serangan serdadu Belanda membuat keluarga ayah Derom pun mengungsi. Mereka meninggalkan desa kelahirannya, pergi dengan jalan kaki ke Lau Diski, dekat Kutacane, Aceh Tenggara. Aceh merupakan daerah yang tidak boleh diserang Belanda berdasarkan perjanjian yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Derom pun harus meninggalkan sekolahnya. (Bersambung)
Penulis: Maruli Pardamean/Penulis Buku Agribisnis dan Praktisi Kelapa Sawit
