InfoSAWIT, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan yakin Indonesia dapat secara berkelanjutan mengganti bahan bakar fosil dengan biofuel yang bersumber dari minyak sawit dan menghentikan impor minyak yang setiap tahunnya menghabiskan miliaran dolar cadangan devisa Indonesia.
“Saat ini kami sedang melakukan penelitian terhadap minyak sawit sebagai bahan bakar alternatif terbarukan, karena kami yakin pada tahun 2045 kita dapat memproduksi sekitar 100 juta ton minyak sawit. 30 persen outputnya untuk pangan dan 70 persen sisanya untuk biofuel,” tegas Luhut awal tahun ini.
Luhut mengatakan kelapa sawit merupakan salah satu dari lima pilar ekonomi hijau yang diprioritaskan Indonesia. Empat pilar lainnya adalah dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan, transportasi rendah karbon melalui adopsi kendaraan listrik secara masif, industri hijau, dan penyerap karbon yang mencakup penangkapan karbon dan pasar penggantian kerugian karbon.
BACA JUGA: Penyidik Gakkum KLHK Pidanakan Pengguna Kawasan Hutan untuk Sawit di Sulsel
Sebagai produsen CPO, biodiesel, dan minyak jelantah terbesar di dunia, Indonesia telah menerapkan program wajib penggunaan biodiesel berbasis CPO sejak tahun 2008. Saat ini, pemerintah telah menetapkan B35, yaitu campuran 35 persen biofuel yang bersumber dari minyak sawit dan minyak jelantah. 65 persen bahan bakar fosil. Pemerintah juga mendanai penelitian biofuel generasi ke-1,5 dan ke-2, yaitu bensin ramah lingkungan, avtur ramah lingkungan (Sustainable Aviation Fuel), dan solar ramah lingkungan.
Proyeksi Luhut mengenai penggantian total bahan bakar fosil dengan bahan bakar berbahan dasar minyak sawit mungkin tampak terlalu optimis, namun pengamatannya menegaskan peran penting minyak sawit dalam perekonomian Indonesia sebagai penyedia lapangan kerja utama, sumber pangan, dan banyak barang konsumsi lainnya serta faktor ketiga. ekspor terbesar. Negara ini, yang kaya akan lahan yang cocok untuk penanaman kelapa sawit, mempunyai potensi besar bahkan untuk meningkatkan produksinya hingga tiga kali lipat.
Meski Indonesia meningkatkan produksi minyak sawitnya hingga lebih dari 100 juta ton, hal itu tidak akan memenuhi pasar domestik dan internasional. Karena minyak sawit juga akan terus memainkan peran yang semakin penting dalam perekonomian global, tidak hanya sebagai sumber biofuel. Komoditas ini relatif murah, sangat serbaguna, dan memenuhi lebih dari 40 persen permintaan minyak nabati global dan kurang dari 6 persen dari seluruh lahan yang didedikasikan untuk memproduksi minyak nabati.
BACA JUGA: Mengenal Cellulosic Ethanol: Biofuel Generasi Kedua dari Limbah Sawit
Namun pertanyaan terbesarnya adalah bisakah Indonesia melipatgandakan produksi minyak sawitnya dari sekitar 50 juta ton per tahun saat ini? Prospeknya tampak agak suram. Besarnya potensi adalah satu hal, namun bagaimana mewujudkan potensi tersebut adalah hal lain.
